Rabu, 12 Maret 2014

Problem Kebebasan

Pada buku kecil yang saya baca, Kierkegaard mencoba mengisahkan kembali cerita Nabi Adam di surga. Hari-hari Adam disurga berjalan sangat bahagia, bahkan hingga saat Hawa diciptakan untuknya. Namun begitulah Tuhan menciptakan manusia, terkadang ada bayangan yang mengganggu kebahagiannya, entah apa itu.

Adam dan Hawa tidak tahu sumber kegelisahannya, hingga pada akhirnya kegelisahan itu mencapai klimaks saat Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan (buah kuldi). Mungkin Adam bahkan Hawa tidak pernah berfikir untuk makan buah tsb, tetapi sekali Allah melarang Adam dan Hawa melakukannya, Mereka tahu bahwa mereka dapat melakukannya (bebas melakukannya). Ketika Adam dan Hawa tahu bahwa mereka dapat melakukannya, mereka tahu bahwa mereka mungkin melakukannya, dan dalam kenyatannya mereka kemungkinan besar akan melakukannya. Itulah hukum kausalitas; sebab Ia tahu, berakibat Ia akan mencari tahu kebenarannya.

Rasa takut atau kecemasan yang dialami Adam dan Hawa ketika berhadapan dengan kebebasannya adalah rasa takut yang bisa saja kita alami saat kita berhadapan dengan kebebasan kita. Lalu, apakah kita telah siap akan kebebasan kita? mari kita renungkan kembali.

“Menjadi manusia adalah menjadi makhluk yang sadar dan terhukum bebas”, J.P Sartre. Kutipan tersebut sekiranya sedikit mewakili atas apa yang saya ingin tuliskan. Terkadang, kita memang kurang menyadari jikalau kebebasan pada hekekatnya telah ada sejak kita dilahirkan. Bahkan menurut Sarte, kebebasan inilah yang selalu menghukum dan mengusik kehidupan kita. Sehinggga dalam taraf essensial, manusia pun tidak perlu memperjuangkan atau bahkan memaksakan kehendak kebebasannya. Karena sesungguhnya, kebebasan itu telah ada dan selalu spontan melandasi setiap keputusan kita. Kita tidak perlu mencarinya.

Kisah Kierkegaard dalam merekonstruksi kejadian Adam dan Hawa memakan buah kuldi, memberikan banyak pelajaran untuk memecahkan problem kebebasan ini. Dalam kisah itu, ketakutan Adam dan Hawa justru muncul ketika mereka berhadapan dengan kebebasannya. Saat mereka mulai menyadari ada larangan yang mengusik kebebasannya, jiwa Adam dan Hawa seolah-olah berontak ingin memakan buah tersebut. Adam dan Hawa sadar bahwa mereka mempunyai pilihan; memakannya atau mengabaikannya dengan berbagai macam rasa penasaran yang menakutkan. Alkisah, Adam dan Hawa akhirnya memakan buah tersebut dengan berbagai rasa penyesalan dan sedikit rasa puas penuh tanggung jawab. Hingga kini, kebebasan itu pun menghukum kita walau disisilain kita memang membutuhkan itu (kebebasan).

Minggu, 23 Februari 2014

Nasionalisme dan Kebingungan Masyarakat Indonesia.

Nasionalisme, secara populer dipahami sebagai sikap kepedulian dan rasa cinta terhadap negara. Term tersebut, disadari atau tidak, adalah kebutuhan vital bagi setiap negara agar mendapatkan simpati rakyatnya. Oleh karena itu,  ketika rasa nasionalisme memudar, rakyat kembali diberikan wejangan-wejangan politik yang tak ubahnya syair-syair lagu yang teramat merdu. Tujuannya jelas, agar masyarakat kita kembali solid dan optimis, serta mahfum terhadap persoalan bangsa.

Melalui nasionalisme, masyarakat dihibur dengan fantasi-fantasi kemenangan dan keagungan bangsanya. Pengalihan isu-isu politik terhadap kejayaan masa lalu ataupun aksi-aksi heroik pahlawan kita dengan semboyan “satu bangsa Indonesia, satu bahasa Indonesia, satu tanah air Indonesia” kembali diputar sebagai tontonan yang menusuk setiap relung hati kita. 

Bisa ditebak, sebagai dampaknya masyarakat kita kembali sibuk membenahi rasa kecintaannya terhadap negara. Sebagian orang bahkan percaya, ketika mereka mendukung Indonesia dalam berbagai ajang internasional. Maka mereka telah memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Lagu-lagu bertemakan nasiolisme pun ramai dipasaran, salah satunya lagu “garuda di dadaku”. Sepakbola dan badminton hanyalah contoh kecil bagaimana kita bisa menyaksikan langsung masyarakat kita begitu sangat mencintai tanah airnya. Masyarakat berbondng-bondong untuk bernyanyi bersama melupakan carut marut bangsa. Menumpahkan kebanggaannya pada pertandingan melawan tim negara lain dengan antusiasme yang tak ternilai besarnya. Pertanyaannya, apakah ini nasionalisme?

Dilain sisi, nasionalisme Indonesia tak ubahnya semboyan-semboyan legalitas politik dengan daya jual tinggi. Contohnya saja, dengan membayar pajak secara tepat waktu maka bisa dikatakan tingkat nasionalismenya tinggi. Slogan-slogan seperti “hari gini ga’ bayar pajak, apa kata dunia?” atau pun slogan-slogan yang lebih menampar kepedulian kita sebagai warga negara seperti “warga negara yang baik, taat membayar pajak”  menggema disetiap pelosok negeri ini. Bahkan dalam bentuk lainnya, slogan-slogan “aku cinta produk Indonesia” yang memahami nasionalisme sebagai penghargaan atas barang-barang buatan dalam negeri juga turut meramaikan persepsi kita mengenai nasionalisme. Tentu saja, ketika kita membeli, maka dapat dipastikan nasionalisme yang dimaksudkan dalam slogan tersebut tercapai.

Cukup jelas, dari gambaran saya sebelumnya. Dapat ditarik suatu benang merah bahwa kita memang masih memaknai nasionalisme itu sebagai tindakan yang terlalu mengagung-agungkan identitas. Bagi sebagian masyarakat kita, nasionalisme itu masih seumpama barang yang teramat mulia, yang mampu menyihir kita untuk pasrah ketika ditanyai mana nasionalisme kita? Bisa jadi, berangkat dari argumentasi tersebut. Kita mungkin masih menganggap bahwa tanpa nasionalisme kita hanyalah mahluk yang sangat menjijikan.

Lebih parah lagi, banyak pemuda kita memahami nasionalisme hanya sebatas lifestyle saja. Batik dipakai disana-sini sebagai identitas, dipermak dengan model model yang tidak ketinggalan jaman. Tas, dompet, topi, jacket bahkan perlatan ibadah pun tak lepas dari nuansa batik. Mereka percaya bahwa batik itulah Indonesia. Mengapa begitu? Apakah Kalimantan, Papua atau daerah lain diluar jawa memakai batik?. Argumentasi batik sebagai identitas nasional pun perlu diragukan. Karena menurut saya, batik lebih sebagai identitas kebudayaan suatu daerah dan bukan Indonesia secara menyeluruh. Kalaupun itu sebagai bagian dari Indonesia, maka batik lebih pantas dikategorikan kedalam warisan budaya yang perlu bahkan wajib dilestarikan. Lagi-lagi terkait hal diatas, kita masih bingung terhadap apa makna nasionalisme itu?

Model-model nasionalisme yang mengusung tema kedaerahan bahkan kini telah memasuki ruang yang begitu luas. Nasionalisme kini seolah-olah menjadi identitas yang memisahkan, yang pada tataran tertentu memungkinkan setiap individu untuk bebas mencari pandangan nasionalismenya masing-masing. Hal ini tak lain, karena tidak adanya konsep yang jelas mengenai nasionalisme itu sendiri. Kemudian percekcokan itu malah membawa kita pada suatu argumentasi yang belum tentu sepenuhnya benar yang menyalahkan negara. Negara dianggap tidak mampu mencerdaskan bangsa, sehingga rakyatnya tetap bodoh dengan kebingungan-kebingungannya yang konyol.

Nasionalisme memang dapat sangat berbahaya jika dipahami secara sempit. Pemikir Inggris Richard Aldington (1931: bag. 1 Bab. 6, dlm Baskara Wardaya, 2002: 15-16) pernah mengingatkan bahwa memahami nasionalisme secara sempit itu seperti “a silly coke crowing on its own dunghill and calling for larger spur and brighter beak”, alias ayam jago tolol yang berkokok di atas tumpukan kotorannya sendiri sambil menyerukan tuntutan agar tajinya lebih besar dan paruhnya menjadi lebih mengkilat. Dengan kata lain, analogi tersebut hendak mengartikan bahwa nasionalisme itu pada dasarnya hanyalah sebuah impian belaka. Apalagi ketika kita hanya mampu memaknai nasionalisme  secara sempit, mungkin memang cukup pantas jika kita disebut sebagai ayam jago tolol. 

Masa Depan Nasionalisme Indonesia.


Kemudian dipenghujung tulisan ini, mau tak mau penulis pun pada akhirnya harus membayangkan bagaimana nasionalisme Indonesia di masa depan. Mengapa harus Indonesia? Simpel saja. Di Indonesia inilah gambaran gambaran mengenai nasionalisme masih amat sangat beragam. Penulis sepakat dengan pernyataan Benedict Anderson dalam bukunya ‘Nasionalisme Indonesia Kini dan Di Masa Depan’ yang menyatakan Indonesia adalah contoh yang paling bagus dalam berbagai hal mengenai nasionalisme masa kini. (Benedict Anderson, 2010 : 3).

Di Indonesia, kita dapat melihat betapa nasionalisme begitu lekat dengan harapan untuk masa depan, jika kita perhatikan nama-nama dari organisasi awal yang bergabung dengan gerakan kemerdekaan pada awal abad-20: Jong Java, Indonesia Muda, Jong Islamietenbond (Liga Muslim Muda), Jong Minahasa, dan sebagainya. Tak ada satupun organisasi yang menamai diri mereka Jawa Tua, Bali Abadi, atau sejenisnya. Orientasi mereka adalah menuju masa depan dan basis sosialnya adalah para pemuda (Bahkan hingga saat ini, kekuatan politik istimewa yang dimiliki mahasiswa terletak pada posisi sosial mereka sebagai simbol masa depan bangsa). (Benedict Anderson, 2010 : 6).

Lebih jauh lagi, para pemuda pada masa itu menggunakan identitas kedaerahan mereka bukan atas nama nasionalisme lokal yang separatis, namun sebagai penanda akan komitmen kedaerahan mereka terhadap kebersamaan sesama koloni dan proyek bersama untuk pembebasan. Mereka tak terlalu lagi mempedulikan bahwa dulu raja Aceh pernah ‘menjajah’ wilayah pesisir Minangkabau, bahwa raja orang Bugis pernah memperbudak orang-orang di perbukitan Toraja, bahwa bangsawan-bangsawan Jawa pernah mencoba untuk menaklukan dataran tinggi Sunda, atau maharaja Bali yang pernah dengan sukses menundukan Pulau Sasak. (Benedict Anderson, 2010 : 6) .

Pada masa itu, Nasionalisme memang sangat jelas peranannya. Nasionalisme telah memerdekakan Indonesia dengan persatuannya. Namun, siapa sangka justru ketika kita sudah sedikit leluasa menentukan nasib bangsanya sendiri. Kita terjebak kedalam pertengkaran dengan bangsa sendiri?, dengan orang-orang yang dulunya berjuang bersama demi kemerdekaan dan kedaulatan tanah air Indonesia. 

Masih teringat jelas pada ingatan kita, bagaimana militer kita dan kaum-kaum fanatik keagamaan lainnya membantai ribuan jiwa masyarakat Indonesia yang dicurigai sebagai PKI di tahun 1965.  Sekitar 500.000 warga negara Indonesia yang terdiri dari petani, buruh, pemuda, dan para guru meregang nyawa. Kira-kira 250.000 orang lainnya ditahan, bahkan 100.000 orang diantaranya disiksa dalam kamp-kamp konsentrasi. Hingga saat ini, keberadaan mereka pun masih belum jelas. (Malcolm Caldwell dan Ernst Utrecht, 2011 : 263).

Contoh yang teramat baru mengenai bagaimana kita acapkali sibuk mengawinkan kedaulatan negara dengan jalan kekerasan adalah bagaimana kita masih sering terpancing dalam peperangan dengan bangsa sendiri. Seperti, konflik militer dengan gerakan Aceh merdeka ataupun dengan separatis Papua. Apakah ini kedaulatan negara yang kita inginkan?

Sekali lagi, jika meruntut pada definisi Hans Kohn (1971: 9) yang menggarisbawahi bahwa esensi nasionalisme adalah sama, yaitu ” a state of mind, in which the supreme loyality of the individual is felt to be due the nation state” (sikap mental, dimana kesetiaan tertinggi dirasakan sudah selayaknya diserahkan kepada negara bangsa). Apakah kesetiaan itu memperbolehkan kita mengkesampingkan dan merampas hak hidup orang lain? Entahlah…

Itulah sejarah, tanpa disadari memang kerap menyakitkan. Bahkan rasa sakit itu dapat terus terulang dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang kurang lebih sama. Begitupun juga nasionalisme sebagai bagian dari perjalanan manusia, bukan tidak mungkin akan mengalami fase pengulangan dalam sejarah. Atau bahkan, bentuknya bisa saja lebih kejam dari pada kejahatan fanatisme masa lalu, seperti saat fasisme menggemparkan dunia. 

Sebagai penutup, penulis meminjam kata-kata Benedict Anderson untuk kita agar selalu berhati-hati dalam menyerap segala bentuk fanatisme sempit. “Waspadalah kepada siapapun yang membuat negara menjadi sesuatu yang sakral dan senantiasa dipuja, dan waspadalah kepada siapa saja yang selalu membanggakan ‘kejayaan nenek moyang yang begitu agung’. Milikmu akan segera dicurinya.” (Benedict Anderson, 2010 : 5).





Tinjauan Pustaka

Anderson, Benedict. 2010. Nasionalisme Indonesia Kini dan Di Masa Depan (terjemahan Bramantya Basuki). Penerbit Anjing Galak. (e-book dapat di unduh di www.anjinggalak.tk).

Baskara, Wardaya. 2002. Nasionalisme Universal: Menjawab Ajakan “Pasca-Nasionalismenya Romo Mangun, dalam Jurnal Iman, Ilmu Budaya. vol. 3. Sept. 2002. Jakarta: Yayasan Bhumiksara

Caldwell, Malcolm dan Ernest Utrecht. 2011. Sejarah Alternatif Indonesia. Yogyakarta : Djaman Baroe.

Kohn, H. 1971. Nasionalisme Arti dan Sejarahnya (terjemahan Sumantri Mertodipura). Jakarta: Pustaka Sardjana

Minggu, 07 Agustus 2011

Sunset Diatas Ketinggian*

Setiap Waktu Kucoba Mengingatnya
Kala itu, Saat Aku Terpejam
Bercumbu dengan Sunset dan Warna KeagunganNya
Diatas Pijakan Bukit yang Curam

Memang Benar Tak ada Keindahan Tanpa Pengorbanan
Itulah Yang Dibisikan Angin Yang Dingin
Saat Ia Terus Menerpa TubuhKu
Dengan Gemetar Kengerian Akan Panggilan Kematian

Kemudian Tersadarlah Aku yang Tak dapat Menikmati ini Secara Utuh
Juga Karena Debu yang Tuhan Kirim Bersama Angin
Mendesakku Untuk Meyakini Akan Tiadanya Kenikmatan Abadi
Dan Teruslah Kau Kubur Keberanian Ini Dengan Pasir Mu Tanpa sisa

Hah… Sesalku…
Sungguh Jika Ku Bisa Tuliskan ini pada saat AlamMu MenggodaKu
Setidaknya Angin dan DebuMu dapat terharu
Tentu Saja Agar Berhenti Memisahkan Ku dengan Sunset Mu

Sementera itu, Langitmu Masih Bersolek dengan Warna yang Tak Kuduga
Aku Tetap Sibuk Membenahi Kebekuan ini
Beserta Sepucuk Harapan akan Terulangnya Saat ini
Untuk Melihat Pementasan ini Kembali
Walau Tanpa Kenangan Yang Tak Selalu Indah Seindah Waktu Terjadi







Yogyakarta, 30 Juli 2011.
*Untuk Mencatat Kenangan Yang Belum sempat tercatat Mengenai Keberadaanku Saat Itu. Merbabu

SELAMAT TINGGAL PENYESALAN

Pada Malam Yang Biasa Saja
Antara Aku dan Banyak Hal Terlewatkan
Seakan Akhirnya Kubuat Tiada Biasa
Ia Menikamku, Merampok Alasan

Sungguh Keji Tatkala Ia Ingin Menghujam
Dengan Pisau Yang Telah Ia Aliri Liurku
Tepat Diubun Syaraf Yang Teryakini Olehnya
Mampu Kacaubalaukan Apapun Saja

Hahahha Kemudian Kuputuskan Untuk Tertawa
Mempermainkan Ia yang Terperangah Curiga
Aku Lupa, Akulah Tuan Penulisnya
Lalu Ini Hanyalah Bualan Sesalmu Katanya

Tentu Tidak, Aku Sengaja Ingin Memanggilmu
Hanya Dengan Ini Kau Datang Atas Keberpuraanku
Memancingmu Untuk Menghabisimu Kataku
Dengan Caraku Dan Oleh Kemauan Bebasku

Ingat, Akulah Tuan Dari Peranakan Mu
Enyahlah Beserta Pisau yang Tertancap Padamu
Lakukanlah Bodoh, Aku Inginkan Itu
Darahmu, Darah Dari Bagian Semangatku






Yogyakarta, 03 Agustus 2011

Kamis, 30 Desember 2010

Potret Sepak Bola Nasional (Part 2)

Sampai kapanpun Indonesia tak kan mampu berbicara banyak dihadapan dunia. Karena Indonesia hanyalah negeri dengan angan angan jutaan penduduknya yang selalu bernyanyi meneriakan patriotismenya. “Garuda di dadaku, Garuda kebangganku” Kiranya cukup sebait kalimat itu untuk menghujam tepat disetiap benak nurani kita. Indonesia, adalah negeri dengan jutaan cinta disetiap simbol kenegaraannya. Dalam keadaan se ekstrim apapun, Merah, Putih, Garuda dan lagu kebangsaan tak lelah arogan di langit ranah pertiwi. Lantas, cukup adilkah perlakuan Negeri ini membalas setiap derai tangis yang terurai disetiap tetes perjuangan rakyatnya? Okelah kita kesampingkan dulu carut marut bangsa kita akibat ulah para koruptor.  

Baru saja, negeri yang mencatatkan diri sebagai salah satu negara terkorup ini menyaksikan pesta meriah saudara mudanya dan hanya mampu berteriak ganyang, ganyang, dan ganyang sambil sesekali menahan sedu disetiap jeda tangis kita. Ya, bahkan dikancah Sepakbola saja kita belum mampu mengalahkan Negara yang dikatakan lebih sedikit penduduknya dibanding Negara kita. “Kecil kecil cabe rawit” julukan itu kiranya pantas disematkan kepada negara yang selama ini selalu bersitegang dengan negara kita meskipun pada dasarnya kita serumpun dan satu latar belakang sejarah dengan mereka.

Sedangkan kita, “Tidak mempunyai stamina yang konsisten selama 90 menit, mempunyai mental tempe dan sulit mengontrol emosi.” Begitulah sebagian gambaran problem timnas selama ini. Sekali lagi, Indonesia hanya mampu bermimpi, bermimpi dan bermimpi. Jangankan di level Internasional, pada level Asia tenggara saja kita belum bisa menunjukan progres yang signifikan. Padahal sepakbola adalah pemersatu bangsa dan perekat jarak antar kelas. Terserah anda setuju atau tidak, bagi saya sepak bola adalah salah satu bentuk ideologi yang saya berani katakan  sebagai medan perang dan penaklukan di era modern. Kiranya butuh berapa banyak lagi potensi pemain berbakat dari jutaan rakyat Indonseia agar kita dapat menaklukan dunia? Atau memang Negara kita masih kekurangan penduduk sehingga sulit mencari bakat potensial yang akan membuat kita tersenyum bangga? Entahlah…

Belum lagi masalah internal terselesaikan. Masalah eksternal muncul begitu derasnya menggoyahkan sistem persepakbolaan tanah air. Jelas saya sepakat pada kalian yang menyebut betapa kancutnya sistem distribusi tiket menjelang pertandingan final .Tentu juga saya merasakan kegeraman yang sama saat hasrat besar untuk menjad saksi sukses pertama kita di  Asia Tenggara dalam kurun 19 tahun terakhir ini terhambat oleh mekanisme kacaubalau yang membuat kita jadi berada dalam sebuah ketidakpastian dan rasa frustrasi.

Jika kita memang menginginkan Indonesia yang mampu berbicara banyak dihadapan dunia. Maka galanglah segala kekuatan dan segeralah berevolusi. Saya yakin bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang kecewa pada sikap PSSI. Namun bukan berarti kita menumpahkan kekesalan kita dengan merusak stadion atau melakukan hal bodoh lainnya yang membuat kita menjadi rugi sendiri. Ambil contoh, jika kita kecewa terhadap kinerja PSSI maka hancurkanlah orang orang yang tidak becus bekerja itu. Atau jika kita kecewa terhadap kineja Nurdin Halid, maka robohkanlan kekuasaanya bukan malah merobohkan hal lain seperti merobohkan pagar stadion GBK.

Bangkitlah Indonesiaku, kita semua yakin hal hal seperti ini adalah proses menuju kedewasaan kita yang sesungguhnya. Oleh karena itu, belajarlah dari kesalahan dan teruslah bersemangat!. Sehingga suat saat nanti kita akan selalu bernyanyi “Ku yakin, Hari ini pasti menang!”.


Yogyakarta, 30 Desember 2010

Sabtu, 21 Agustus 2010

Nasionalisme (Seumpama) Krupuk.

Barisan pokok isi perut kita
Menitik naskah utopia
Di negeri buah maja
Selera kerap meracun suka


Kaleng biru berkaca
Tak terlindung akan hampa
Jemariku mencukil terka
Puluhan krupuk hilang nyawa


Wujud memang nyata
Slalu menemani menu kita
Kemudian sia-sia
Mulutpun terisolasi tuk memuja


Kubilang ini seumpama
Dari ada yang tak berjiwa
Hilang nikmat sepah terasa
Karena sikap berpura lupa









abimanyu 13, 20 agustus 2010.

Rabu, 04 Agustus 2010

Potret Sepak Bola Nasional (part 1)

“Arema vs Sriwijaya, Daaah wasitnya diganti bapak-bapak yg berseragam coklat aja!. Rak mutu tenan!”. Celetuk seorang teman yang tak sabar menunggu pertandingan babak kedua. “Inilah potret sepak bola Indonesia bung!” Ucap komentator pertandingan seakan menimpali perkataan temanku tersebut.

Ya, memang inilah sepakbola tanah air dengan keunikan yang jelas tak dimiliki oleh persepakbolaan Negara lain. Tanpa mengurangi rasa hormat, tindakan Kapolda  Jawa Tengah yang dipimpin Irjen Alex Bambang Riatmojo dengan memberikan saran untuk mengganti wasit terasa sangat aneh.

"Ini wasit diganti atau tidak? wasit yang tidak adil  akan berpengaruh pada penonton. Lihat saja penonton disini sudah ramai sekali, sudah penuh. Kondisi keamanan bisa kami jamin tapi jika wasit tidak fair, kami bisa repot". papar Alex dikutip dari detik.com.

Ditengah pertandingan yang sedang berlangsung, Kejadian ini dianggap janggal oleh sebagian pecinta dan pengamat sepak bola Indonesia. Apalagi sampai mengakibatkan pertandingan yang digelar di stadion Manahan Solo ini sempat terhenti hingga satu jam lamanya.

"Saya rasa ini pertandingan yang menarik dan unik, karena baru pertama kali saya melihat hal seperti ini. Wasit diminta diganti padahal ia memimpin dengan baik," nilai Robert pelatih tim Arema Indonesia. “Bukankah hal yang wajar, ketika pemain saya (Noh Alam Sah.red) dikartu merah karena mengangkat kakinya terlalu tinggi” lanjut pria dengan nama lengkap Robert Rene Albert itu.

Wasit sebagai pemimpin pertandingan sudah seharusnya memegang penuh kendali tanpa diganggu gugat oleh pihak manapun. Dengan kata lain, ketika pertandingan masih berjalan maka hanya ada satu pemimpin yaitu wasit yang sedang bertugas. Meskipun nantinya keputusan wasit acap kali memicu kontrovesi, sudah selayaknya keputusan itu dihormati. Toh dengan alasan keamananpun wasit tidak begitu saja disalahkan kemudian diganti wasit lain.

Sepak bola sudah ada aturannya sendiri. Jika begini, untuk apa adanya perangkat pertandingan, dan untuk apa adanya lembaga seperti PSSI?. Memang benar, di Indonesia perbedaan kepentingan adalah hal yang lumrah . Sehingga tidak menutup kemungkinan dari perbedaan kepentingan tersebut hal-hal unik semacam inipun lantas terjadi.

Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), “Konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang berkembang atas kebangkitan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih”. Oleh karena itu, Mengenai hal ini kiranya para petugas kelembagaan saling berintegrasi untuk suatu hal yang lebih baik. Agar konflik tidak berlarut-larut. Karena menurut Taquiri pada logikanya konflik akan terus berlanjut jika tidak ada usaha untuk saling pengertian dari beberapa pihak yang sedang berkonflik atau yang sedang mempertahankan kepentingannya.

Penulis berharap untuk Kedepannya hal-hal semacam ini tidak lagi terjadi di persepakbolaan Nasional. Terlebih kepada para lembaga yang mendukung usaha pengembangan prestasi Indonesia ini juga mampu menghormati dan mempelajari peraturan yang sudah disepakati. Bukan kemudian membuat atau bahkan memaksakan peraturan baru, setuju?.

Jumat, 30 Juli 2010

Wisata Kopi





Dipucuk Mata rantai Menegak Tinggi
Membentang Batas Pagar Industri
Wanita Bercangkul Memungut Padi
Bocah Lusuh Terkapar Kurang Gizi
Pria Malas Mencoba Berpuisi
Berkawan dengan Sangcangkir Kopi


Adios Ibu Pertiwi...
Maaf Nisanmu Kami Tanami
Sebab tak ada Lahan Penunda Mati


Ini Kopiku Kopi Polusi
Ku kecup kunikmati Berulang Kali
Tetap Panas Tersengat Matahari
Sepah Tanpa Cita Rasa Pemberani


Wisata Kopi...
Telah Terpotong Jari-jari Pribumi
Yang kreatif Meracik Imajinasi





Kebun Kulur, 30 Juli 2010

Rabu, 28 Juli 2010

Berpura 9ila



Hujan dibatas waktu Meneguk debu
Menyelinap Jendela Tanpa Kelambu
Ku sentuh Bias MengkisahkanMu



Terlantun kasih berpeluk Kalbu
Menghela nafas Aroma tubuhmu
Terhirup Jauh dari hari Bersamamu



Berdenting nada Pesan Rindumu
Mendekap lembut Mengecup Keningku
Sadarkan Aku untuk Menunggu



Birthplace, bilik tiga 28-07-10

Selasa, 27 Juli 2010

Rindu




Ketika Senja Memantik Angan
Berhias Kabut Mencengkram Ingatan
Dikeluhkannya Kegelisahan Dalam Getaran
Beserta Ketakutan Akan Pohon Kematian

Gemuruh Angin Lemahkan Tegap keperkasaan
Dibalik Saung Bintang Datang Bersama Bulan
Kuratapkan Rindu Pada Wanita Sejuta Kejutan
Meredam Hangat Terangkul Sebuah Bingkisan

Esok Mata Melipat Mimpi
Melihat Merak Sambut Mentari
Sungguh Aku Telah Berjanji
Sampaikan Rindu Tak Kumengerti


Cikasur, 14 Juli 2010

Sabtu, 22 Mei 2010

Nasionalisme Quo Vadis? (Bagian 1)

Baru saja membuka mata, kulihat jam menunjukan pukul 2 siang. Teringat hari ini Timnas bulutangkis Indonesia melakoni partai final Thomas cup 2010 melawan China. Kunyalakan tv yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur. Seketika itu juga aku langsung menuju chanel yang menyiarkan tayangan tersebut. “Sial!” Sesalku dalam hati. “Aku tertinggal satu game.”

Kini para punggawa Indonesia sedang menjalani pertandingan ke duanya. Terlihat pasangan ganda pria Indonesia Markis Kido dan Hendra Setiawan sedang berjibaku melawan atlet China.  Indonesia tertinggal 1-0 setelah pertandingan yang tak ku lihat tadi, antara Taufik Hidayat (Indonesia) versus Lin Dan (china) dimenangkan oleh tim musuh.

Kusaksikan dan kunikmati pertandingan, sesekali aku berteriak lantang “Indonesia!, Indonesia!” Entah mereka mendengar atau tidak, aku tak peduli. Akupun tak mengerti maksudku ini apa. Mungkin ini sebagian rasa nasionalismeku atas tanah pertiwi yang seketika muncul secara reflek ketika menonton para pejuang bangsa itu.

2-0 kedudukan saat ini, Timnas negaraku tampak tak berdaya digenggaman raket atlet China. Namun, aku tak patah semangat untuk terus mendukung para pahlawan ini. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh para supporter yang sengaja datang untuk memberi dukungan secara langsung. Teriakan bagi negeri yang bergejolak ini tetap menggema seantero kuala lumpur yang menjadi tuan rumah ajang dua tahunan ini.

Bahkan serasa di negeri sendiri tatkala melihat ribuan supporter negeri kita berlenggak lenggok kesana kemari. Tanpa memperdulikan sorotan kamera yang mengikuti ekspresi para supporter yang membanggakan ini. Sebuah nasionalisme yang ternyata mereka juga rasakan.

Tertinggal 2-0 bukan berarti berhenti berteriak, berhenti memberi dukungan ataupun berhenti berharap. “Masih ada satu game lagi Indonesiaku!” kali ini teriakan ku lebih lantang dari teriakan sebelumnya. Inilah harapan terakhir untuk membalikan keadaan. Jika kalah, maka China keluar sebagai juara. Sekaligus kedua kalinya China mempecundangi Indonesia pada perhelatan tahun ini. Sebagaimana diketahui, sebelumnya tim putri juga ditundukan tiga game tanpa balas di semifinal Uber cup. Tentu saja, bukan ini harapan jutaan rakyat Indonesia.

Pertandingan ketigapun dimulai, saatnya Simon Santoso beraksi. Tampak di layar kaca ia berjuang gigih mencuri poin. Jarak antara ia dan lawannyapun telah dilupakannya. Semua itu demi Indonesia yang sangat kita cintai ini. Betapa tidak, dibanding musuhnya yang berada diperingkat 3 dunia, pebulutangkis kelahiran Tegal ini hanya peringkat 12 dunia.  Terbukti di set pertama Simon Santoso unggul dengan selisih angka 21-19.

Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, ternyata lapar diperutku ini sudah tak tertahan lagi. Kuputuskan untuk pergi ke burjo (warung makan) yang letaknya tidak begitu jauh dari kosan. “Disanakan ada tv, pasti  lagi nyetel Thomas cup. Makan sambil nonton aja ah!” inisiatif itupun muncul. Kecewa dan pasrah, setibanya di TKP (Tempat Kerumunan Penonton). Prediksi ku salah, kerumunan yang berteriak ini bukan sedang menonton Timnas Indonesia. Tapi mereka sedang mendukung Persib Bandung, tim sepakbola andalan daerah mereka.

Ya! Pemilik burjo ini adalah fans sejati Persib atau yang lebih dikenal sebagai bobotoh alias Viking. Dengan sangat terpaksa, akupun memesan nasi telur plus es teh. Sedang, kekecewaan ini masih terasa membebani dan memunculkan pertanyaan “Dimana Nasionalisme orang-orang ini? Kenapa lebih mementingkan tim daerah mereka daripada tim negaranya?” Sungguh tak mampu otakku mencerna realita dihadapanku ini.

Berbicara tentang nasionalisme, teringat dulu ketika aku wawancara untuk kepentingan sebuah buletin kampus di Kulon Progo. Aku berkesempatan mengobrol dengan salah satu petani setempat, Pak Widodo. Begitu ramah dan santun tutur katanya, seolah-olah meruntuhkan kesan ‘mencekam’ saat pertama kali kupijakkan kaki diwilayah yang tengah bersitegang dengan pemerintah ini.

Cukup lama aku berbincang dengan sosok bertubuh tambun dihadapanku ini. “Maaf pak sebelumnya, kalau boleh tau sebenarnya apa yang bapak dan orang-orang daerah sini perjuangkan?” tanyaku pada pria asli Kulonprogo tersebut. Panjang jawaban yang diberikan, tak akan nampak jika kita hanya melihat pria ini sekilas.

“Kami ini cuma mencoba bertahan hidup kok mas, tak pernah terbesit diangan kami untuk mati tergeletak mempertahankan tanah penghidupan ini. Namun kesejahteraan yang dijanjikan pemerintah tak ingin kami mendengarnya karena kami sudah sejahtera tanpa adanya pertambangan ditanah yang kita tanam. Selama ini janji pemerintah palsu mas, jangan dikira karena kami bodoh lalu kami membiarkan anak cucu kami mati kelaparan. Lebih baik kami  menjadi petani seumur hidup dari padi jadi buruh tambang yang mungkin berpenghasilan lebih banyak namun suatu saat ketika tanah ini sudah tidak berguna dibiarkan tergeletak lalu kami tumbang satu persatu. Kami cinta tanah ini mas, persetan dengan Indonesia milik para penjilat. Tengoklah kami yang selalu tertawa dan bercengkrama satu sama lain, saling asah saling asuh tak segan untuk saling membantu satu sama lain. Kamipun berani berteriak, kami sudah sejahtera! Lalu untuk apa pemerintah menawarkan kesejahteraan? Palsu mas! Tanpa adanya Indonesiapun kami tetap sejahtera mas. Toh ketika tanah kita ini ditambang saya yakin kesejahteraannya akan mandeg di pihak pemerintah. Lalu kami hanya berharap kecipratan kesejahteraan itu dengan tergeletak menunggu mati. Kami tegaskan kami lebih mencintai tanah ini dari pada Negara palsu milik para penjilat dan kami siap mati untuk memperjuangkannya.”-terang pak Wid.

“Apakah ini primordialisme?” gumamku dalam hati. Hening sejenak ketika Pak Widodo menyalakan sebatang rokok yang diapit kedua jari tangan kananya. “Kami sebenarnya bukan pemberontak mas. Bukan juga segerombolan orang yang ingin menikmati kekayaan alam ini sendiri. Kami sedih ketika realita yang ada pemerintah lebih mementingkan perusahaan asing untuk menambang tanah yang sudah dikelola turun temurun ini dari pada kesejahteraan rakyat miskin seperti kami. Bukannya kami tidak mencintai Negara ini, tapi perbaikilah moral Bangsa ini terlebih dahulu untuk kemudian kami mencintainya dan rela bertumpah darah untuknya.”-lanjut pak Wid.

“Ini mas nasi telur sama es tehnya” suara si penjual menyudahi nostalgiaku. Sebuah dialog dengan bapak Petani yang membuatku kagum akan pola pikir yang tidak semua petani di Indonesia memilikinya. Muncul pertanyaan dalam benakku, “sebegitu rumitkah nasionalisme dimatanya?” Hingga saat ini, akupun masih penasaran. “Sudahlah…” jawabku menghibur diri sembari menyantap hidangan yang telah tersaji.

Memang benar, Nasionalisme sesungguhnya tidak sesimpel yang kita bayangkan. Jauh dibawahnya masih ada primordialisme, dilanjutkan individualisme dengan ego dan kepentingan yang bermacam-macam. Atau mungkin, Nasionalisme lebih rumit dari itu. Terlebih di masa sekarang, kita mengenal istilah kepentingan kelompok dan bahkan kepentingan partai. Lantas, kepentingan apa lagi yang sebenarnya kita cari? Entahlah…



Kuturaden, 16 Mei 2010 I 03.00

Rabu, 19 Mei 2010

Menggambar dengan cita.











Negeriku: Cerita di Pagi Hari

Pagi itu, kubuka jendela kamarku. Hari ini cuaca begitu cerah. Sinar matahari terbit menyorot pelupuk mataku yang masih sayup. Kulihat jam dinding kamar yang memanggilku, ia berkata "lihatlah aku, aku sekarang berada di angka enam, taukah kamu wahai pemuda? kau telah menghabiskan sebagian perputaranku hanya untuk memanjakan tubuhmu! apa itu yang kau sebut perjuangan? sungguh keliru kau pemuda". Sejenak aku terpaku pada cemoohan jam dinding yang sok tau itu, lalu aku balas mencacinya "Kau mengingatkan aku karena kau ku beri energi dengan baterai yang kau hisap itu kan?, jika aku tak memberimu itu, masih maukah kau mengingatkan ku?" Kutinggalkan jam pamrih itu untuk kemudian aku turun menyusuri tangga setapak demi setapak. "Lapar sekali" keluhku dalam hati. 12 jam tertidur sama dengan aku beraktivitas. karena sama-sama lapernya. Sungguh merugi aku ini.

Kuputuskan pagi ini untuk sarapan bubur kacang ijo karena pikirku sepertinya enak sarapan manis-manis di pagi hari. 'Burjo Selaras' begitu judul poster yang terpampang diatas deretan menu  yang menjelasan bahwa warung ini menyediakan berbagai minuman, bubur kacang ijo, mie rebus/ goreng dan berbagai mie macam lainnya yang sebenarnya sama sama berbahan mie mungkin yang berbeda cuma cara pengolahannya dan tentu saja nama yang terkadang memberikan kesan unik. Di paragraf selanjutnya seperti kebanyakan burjo  lainnya tentu saja burjo ini juga menyediakan nasi telur yang begitu digemari sebagian mahasiswa pengidap kanker (kantong kering).

"Burjonya satu mba, pake susu gausah pake santen" segera aku memesan kepada mba penjual burjo yang sedang menggendong anaknya sambil melayani pelanggan itu. "Pake es engga mas" sahutnya. "Pake aja mba, biar seger" lanjutku. Sebentar kumenunggu, pesanankupun telah berada dihadapanku. Sungguh nikmat anugrah Tuhan dalam butiran kacang ijo ini. Kukunyah lalu kutelan seraya bergumam dalam hati "Manis yang kunikmati, semanis pagi ini dengan balutan keindahannya bagaikan beberapa tetesan susu yang ku pilah agar merata pada setiap butir yang kukunyah". Suasana pagi ini mengantarkan anganku berada jauh pada titik dimana aku berada sekarang. "Gudeg rasa peuyum" gambaran pagi ini kusimpulkan. Memang benar, secara tak langsung hari ini seperti aku tidak berada di Jogja, mungkin di Bandung atau mungkin daerah lain yang berpenghuni suku sunda. Dialog dialog penjual burjo ini dengan sesama penjual burjo lain yang tak sengaja ku mengupingnya mampu membukakan suasana yang berbeda dari Jogja yang kukenal. "Sungguh indah Indonesiaku ini" lagi lagi aku hanya mampu bergumam dalam hati.

Memang benar, Indonesiaku ini terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa, dan bahkan tidak menutup kemungkinan juga memiliki begitu banyak kepentingan. Dari perbedaan itu, sungguh indah negeriku jika harmoni antar penghuninya begitu mesra. Sungguh manis dan sungguh mengagumkan. Terbukti, berpuluh puluh tahun lalu semangat persatuanlah yang mampu memerdekakan Indonesia. Semangat yang patut dibanggakan, Namun 'Lain dulu lain sekarang'  Indonesiaku kini sedang mengalami krisis persatuan. Coba liat saja, perang antar saudara dimana-mana. Dari kalangan bawah, tengah dan atas tak canggung saling hantam. Dari kalangan terpelajar dan yang tak tau apa-apapun sama saja. Peperangan bukan lagi hal yang memalukan. Kita seakan bangga pada kebobrokan mental pecundang kita. Bahkan ketika kita menyakiti saudara kita yang lain kita dengan bangga memamerkannya agar terlihat bahwa kita ini kuat. Sungguh aneh, ketika kebobrokan nilai, moral dan etika sudah tidak lagi berkesinambungan dengan rasa malu. Mungkin inilah tanda berakhirnya peradaban suatu negara yang menuju pada titik kehancurannya. Tak mampu aku mebayangkannya...

Senin, 15 Maret 2010

Nikmat Itu Hanya Sesaat*



Sesalku, satu kata yang ingin ku letakkan diawal kalimat untuk hari ini. Rasanya baru beberapa detik lalu aku mengunyah bakso yang dari setiap butirannya terasa nikmat menggelinding ditenggorokanku. (Sejenak mengingat kejadian beberapa detik lalu) Kukunyah dengan begitu nikmatnya. "Hari ini adalah keberuntunganku" begitu kata hatiku untuk segala nikmat hari ini. Betapa tidak, hari ini aku dapat bakso gratis plus kemenanganku bermain poker (game online yang menawarkan sejuta harapan dengan gelontoran chipsnya). "yap! jika sudah 10M aku jual aja ah, lumayan dapat 100 ribu bisa buat makan, rokoan plus pacaran" otak kampunganku mulai bermain-main dengan segala harapan semu itu.

"Mang tambah baksonya mang, lima ribu lagi" lanjutku meminta mamang tukang bakso untuk menambahkan baksonya saja.

"Laper de?" sahut mamang bakso itu sembari tersenyum dan menambahkan baksonya dimangkok yang ku pegang kini.

"hehehe... iya nih mang laper abis kerja"

"kerja apa emang de?"

"engga sih, cuma abis menang jual chips aja" sahutku. Teringat baru saja aku menukarkan 1M chipsku dengan uang 10ribu. "lumayan masih sisa 7m nih! ntar kalo udah 10M langsung sikat jual ajalah!" gumamku dalam hati.

"chips? apaan itu de?" dengan nada penasaran dan penuh tanya mamang bakso itupun menanggapi.

"ya semacam taruhan gitu deh mang"

"wealah taruhan tho? kok ya disebutnya kerja, dosa lhooo de..." sahut mamang bakso bermaksud mengingatkan.

"hehehe" dengan muka tak berdosa aku diam tak berdaya untuk menjawab pertanyaan itu. Namun jauh dalam lubuk hatiku aku dirumitkan dengan berbagai pilihan untuk itu. Pilihan dengan salah satu opsi dosa yang ku anggap biasa. Suatu dilema besar ketika keberlanjutan hidup diarahkan pada hal-hal yang berbau dosa apa lagi jika dikaitkan lebih jauh yang pada akhirnya mendzalimi pihak lain. Namun itulah realitanya, akupun cuek aja jika nantinya ada pihak yang dirugikan. Toh ini hidupku, 100% yang berhak mengatur hanyalah aku. Satu yang pasti! "YANG PENTING AKU BISA BERTAHAN HIDUP".

"berapa mang semuanya?" sejurus kemudian setelah aku melahap habis bakso rasa poker ini.
"10ribu de..." mamang bakso itu kemudian menyahuti.
" nih mang uangnya" (sambil menjulurkan uang merah bergambar Sultan Mahmud Badaruddin)

" makasih yaaa de"
"iya sama-sama" tutup ku sambil bergegas meninggalkan mamang bakso itu menuju kos untuk melanjutkan perjuangan 10M.


Sesaimpainya di kos. Kubuka pintu kamarku, Ku nyalakan laptop lalu duduk nyaman didepannya untuk kemudian bermain poker lagi.

10 menit berselang... 
Kondisi: Begitu cepatnya chipsku bertambah dari 7M kini 13M (melebihi target awal). Dengan harapan bisa lebih dari itu aku tetap memainkannya.

15 menit selanjutnya...
kondisi: Chipsku turun lagi menjadi 8M. Menyesal  tentunya! (kenapa tadi enggak berhenti), marah (dengan renungan khasnya "aku iki kok goblok yooo?"), dongkol ( dengan alasan: giliran kartuku bagus musuhku ga ikut bertaruh). Tak jarang pula umpatan-umpatan tanda kekesalan bersautan dari mulutku yang tak tau dosa ini.

20 menit kemudian: Seisi kebun binatang telah ku sebutkan. Marah, sedih, menyesal atau apalah itu kini sudah tiada guna lagi. Yang tersisa hanya sebait puisi ini yang kutuliskan dikala kerakusan membawaku pada lembah penyesalan.


Berawal dari pengetahuanku akan dosa
kukayuh anganku pada lembah dusta
tegap berkata aku ini hidup
biarlah lain dari aku mati menguncup


Puisi yang buruk, bahkan sangat-sangat buruk secara bahasa, arti maupun maknanya. "Itulah aku!" 'Aku' yang hanya memperdulikan diri sendiri. 'Aku' yang rakus. 'Aku' yang menghalalkan segala cara. 'Aku' yang membodohi diri sendiri dan tak menutup kemungkinan membodohi orang banyak. Satu yang ku tau kini, NIKMAT ITU (hasil dari dosa) HANYA SESAAT.



* Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita, nama tokoh atau apapun. Mohon maaf saya haturkan. Akhir kata, tulisan ini ku persembahkan untuk orang-orang terdekatku dan para wakilku.

Jumat, 12 Maret 2010

Demokrasi kian Utopis

Ketika wakil negeri ini dipenuhi para artis kondang, tukang jagal, dan para aparat keamanan negara. Seakan tak mau kalah, penarik becak pun kini tak canggung untuk menyuarakan keperkasaannya. Sungguh!, hanya satu kata yang ingin ku ucap saat ini, "I love you full demokrasi".

Ketika banyak Ku lihat kerusuhan,  kekacauan, dan peperangan sebangsa, Aku tetap mencintaimu. Ketika para rakyat dibodohi, ditindas dan dirampas apa yang jadi miliknya, aku akan tetap mencintaimu. Dan ketika pemimpinku dicemooh dan dihina hingga disejajarkannya dengan binatang semisal gurita ataupun kerbau, tak ragu aku untuk berbicara aku tetap mencintaimu wahai demokrasi. Kemolekanmu, kecantikanmu dan keindahanmu sungguh tak ada keraguan didalamnya. Akupun berani berteriak lantang, "KAULAH YANG SEMPURNA WAHAI DEMOKRASI!!!".

Inilah kebebasan yang kau ciptakan, kau suguhkan, dan kau nyanyikan. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu yang tak lebih sempurna dari-Nya (Tuhan). Demokrasi ciptaan manusia ini mampu melebihi kesempurnaan penciptanya. Demokrasi yang didalamnya terdapat cita, moral, etika dan nilai luhur amat disayangkan terlalu jauh melampaui penciptanya. Entah mana yang tak setia kawan ketika manusia dan demokrasi tak mampu jalan bergandengan, saling merangkul dan saling megingatkan. Yang jelas, Manusia tidak lebih sempurna dari hasil ciptaannya.

Wahai demokrasi, engkau diciptakan agar kehidupan manusia lebih baik dan tertata rapih agar saling menghormati, agar jernih dalam bertindak, agar tidak saling bunuh dan agar yang lain yang menjadikan manusia bernama manusia. Tak cukup satu kata, dua kata hingga beribu-ribu katapun tetap tak mampu menggambarkan kesempurnaanmu. Cita-cita yang tersirat dari penciptaanmu begitu luhur, kebebasan yang kau janjikan sungguh membutakan mata penciptanya. Hingga kini dari penciptaanmu , banyak orang yang menjadikan dirimu suatu lambang kebebasan yang tak tentu arah dan tak jarang juga banyak orang yang menjadikanmu kambing hitam atas tindakannya. Atas tindakan yang tak bermoral, tak beretika, dan tak memiliki nilai-nilai positif.

Demokrasi, Kian hari keberadaanmu semakin membawamu pada curam Utopis, sebuah cita cita (impian) yang dianggap ideal  dan sempurna, namun tak pernah menemukan titik terang sehingga keberadaanmu tetap dalam angan penciptamu dan tak pernah beranjak menjadi nyata. Sebenarnya kau ini (demokrasi) yang harus manusia patuhi atau kau yang harus patuh kepada manusia. Aku sulit menggambarkan kedudukanmu dimata manusiai. Kau berada diatas sebagai cita-cita, kau berada dibawah sebagai pijakan atau kau berada ditengah-tengah sebagai pelindung?. Entahlah...

Jumat, 05 Maret 2010

Ingin aku menulis ketika aku membaca tulisanmu (bagian 2)

Tak runtut, Tak mengenai maksud, bahkan terkesan membingungkan. Ketika paradigma dunia nyata aku tuturkan dalam bahasa tikus, kucing dan anjing. Begitu kata seorang temanku setelah ia membacanya. Sesungguhnya, keruwetan itulah kawan yang sebenarnya ingin aku gambarkan terhadap lakon republik dagelan seperti apa katamu. Ketika tikus bebas berselingkuh dengan kucing ataupun anjing dan begitu juga sebaliknya. Itulah Indonesia, tanah air tercinta milik aku, kamu, kami, kalian, mereka, kita semua.

Indonesia yang kita banggakan atas demokrasinya kini telah berubah menjadi indonesia bebas, lepas, terlepas dan semaunya. Kita bebas mencaci, menjatuhkan, bahkan kitapun dibebaskan untuk saling menghantam. Setuju atau tidak, tapi itulah realita yang aku tangkap ketika aku melihat sinetron yang kau suguhkan terhadapku. Sungguh memprihatinkan lagi ketika para lakon republik dagelan itu saling berteriak dan tak canggung untuk mengikutsertakan Tuhan terhadap drama yang mereka lakoni.

"Allahuakbar... merdeka!, merdeka!, merdeka! allaaaaaaahuakbar!" entah apa makna yang terkandung dari teriakan mereka itu. Satu yang tak bisa kupahami, sejak kapan Tuhan ikut berpolitik, atau sejak kapan lafadz 'Allahuakbar' bebas dipergunakan diforum yang tidak ada kejelasan moral dan etikanya?. Sebagai hamba Tuhanpun aku tak kuat rasa menahan hinaan itu, hinaan yang sudah tidak lagi mensakralkan posisi Tuhan. Itu kita yang hanya sebagai hambanya, bagaimana dengan Tuhan? telah Ia ciptakan mulut kita untuk kita rawat ucapannya agar kita tidak sembrono. Namun realitanya, siciptaan itu memang takpernah berterimakasih atas anugrah yang telah Tuhan berikan kepadanya. Hingga masalah duniapun tak canggung mereka melibatkan Tuhan didalamnya. Sesuatu yang patut dipertanggung jawabkan jika suatu saat nanti terbukti teriakan 'Allahuakbar' itu hanya bermakna sebuah batu besar tempat para lakon dapat bersembunyi?. Bukan itu yang aku dan hamba-hamba lain inginkan. Kita hanya ingin 'Allahuakbar' digunakan pada sesuatu yang benar saja, bukan pada hal yang tak jelas salah maupun benarnya.

Belum cukup kekecewaan itu terobati, lakon itu kini kembali berulah. Yang seharusnya dipundak mereka jutaan rakyat Indonesia digendongnya, di otak mereka jutaan rakyat Indonesia berharap, ditangan mereka jutaan rakyat Indonesia menitipkan negara, dikaki mereka jutaan rakyat Indonesia bersimpuh. Dan pada diri merekalah jutaan rakyat Indonesia meminta keadilan. Tapi apa yang dilakukan para lakon? Pundaknya mereka biarkan tergeletak sejajar dengan kepalanya untuk kemudian bermimpi. diotak mereka kerakusan telah menjadi bagian hidupnya. Ditangan mereka gaya hidup dan kepentingan pribadi telah menjadikan mereka lupa akan kewajibannya. Dikaki mereka kita tak mampu ikut serta berjalan. Lalu apa lagi yang kita harapkan atas diri mereka? Keadilan yang hanya sebatas kata-kata itukah yang menjadi acuannya. Mengenaskan...

Setauku, inilah kerjaan para lakon bergajih tinggi itu: Tidur kemudaian saling hantam. Online untuk sekedar mengeksiskan diri mereka ataupun hanya bermain game dengan properti kepuanyaanya. Atau bahkan hanya untuk sekedar (maaf) mengupil. Bahkan mungkin suatu saat (Semoga tidak terjadi) mereka sudah tak canggung lagi untuk hanya sekedar menggaruk (maaf) pantat atau barang kepunyaannya (aku sebut itu dengan ritual 'mlintir') J

Wajar bukan jika orang-orang sepertiku pada akhirnya mengalami krisis kepercayaan?. Lebih lagi, Apakah kalian para lakon pernah berpikir kenapa aku memilihmu?. Aku takut dosa wahai orang yang kupilih, ketakutan akan dosa atas tindakanku jika aku tidak memilih salah satu dari kalian. Bagaimana tidak, terang-terangan MUI mengeluarkan fatwa GOLPUT = HARAM. Itu artinya jika aku tidak memilih salah satu dari kalian maka aku sudah berbuat dosa. Sungguh sebuah dilema ketika aku berlari dari dosa yang satu malah terjerumus pada dosa yang lain. Dosa yang mengantarkanku pada pilihan yang tidak tepat jika kau mengecewakanku wahai orang-orang yang terpilih.Sebuah Dosa pada pilihan yang salah yang justru bau busuknya lebih menyengat jika aku tidak memilihmu (golput). Jika sudah begini, biarlah kurelakan sebagian catatan hidupku dilumuri Dosa yang telah kita perbuat. Aku salah memilih, dan kau salah bertindak.


Kamis, 04 Maret 2010

Ingin aku menulis ketika aku membaca tulisanmu (bagian 1)

Rabu malam, saat kuputuskan untuk terlelap bersama lelahnya perjuangan. Tulisan temanku mengajakku untuk berwisata ke alam yang diungkapkannya. Alam yang bebas berargumen, beropini dan bebas mengkritik. Alam itu yang kini sedang menjadi candu dalam kehidupanku. Mungkin tulisanku bukan tulisan yang kau anggap intelektual teman. Namun aku hanya mencoba belajar atas tantangan alam yang kau suguhkan terhadapku. Berawal dari tutur katamu tentang prilaku prilaku lakon politik yang mengecewakan. Kau mampu menyuguhkan gambaran tentang tikus, kucing dan anjing. Memang benar, di negara kita tikus bisa bebas berkoalisi dengan kucing untuk melawan anjing. Dan Tikus pun bebas berkoalisi dengan anjing untuk membredeli kucing. Atau bahkan kucing berkoalisi dengan anjing hanya untuk menjatuhkan mahluk sekecil tikus. Tak ada lawan pasti, ribuan tahun sejarah kucing sebagai pemangsa tikuspun tak cukup mampu menjadi alasan untuk menjalin petemanan sesaat. Sebuah pertemanan yang tak menutup kemungkinan suatu saat kucing akan kembali menjadi pemangsa tikus. Itulah politik, saling menjatuhkan, saling mencemooh, dan tak canggung untuk saling hantam. Tak peduli seluruh rakyat indonesia tau, tak peduli seluruh rakyat indonesia mengkritik, dan tak peduli jika pada akhirnya rakyat kecewa. Karena ini memang dunia milik mereka. Dunia milik orang-orang yang terpilih.

Seharusnya memang dari awal aku tak berpaling dari warna putih. Dan seharusnya juga dari awal aku menyadari bagaimanapun usahaku untuk tidak lagi memilih putih itu hanya sia-sia. Karena kini warna lain itu telah melenyapkanku pada dosa yang bahkan lebih menyengat bau busuknya dari dosa warna putih. Karena  44 warna itu kini tak mampu melayani rakyat, tak mampu memerdekaan rakyat dan tak mampu mengembalikan uang rakyat. Dan kini, belum usai mereka mengembalikan uang rakyat, mereka kembali menghutang kepada negara. Sungguh suatu yang tak bisa dipahami jika membayar kewajibannya dengan kembali berhutang. Jika uang negara itu milik kami, sungguh pintar kalian wahai orang-orang yang terpilih.





Nb: Ingin rasanya ikut berkomentar ataupun sekedar berceloteh lebih banyak. Namun lelah mata ini sudah tak mampu lagi kupaksaan. Dan akhirnya kuputuskan untuk ikut serta membagi tulisan ini kedalam beberapa bagian seperti katamu agar tidak bosan.






Baca kelanjutannya: Ingin aku menulis ketika aku membaca tulisanmu (bag. 2)

Sabtu, 27 Februari 2010

Ketika Seleksi Alam Merubah Makna Suatu Kata



Sebuah gambar kiriman salah satu temanku. ku harap tak terfikirkan adanya implementasi negatif.  Karena bila ditelaah lebih jauh, tulisan itu dimaksudkan untuk "GUNAKAN LISTRIK SEPERLUNYA" sebuah pesan positif untuk tidak boros dalam pemakaian dan penggunaan listrik.  Selain untuk menghemat biaya pesan itu juga bernilai tinggi karena dapat mengurangi dampak negatif dari pemakaian listrik yang berlebihan. Namun entah kenapa, seiring dengan memudarnya huruf L dan K. pesan positif itu berubah menjadi suatu kalimat yang mengandung pelecehan, tidak manusiawi bahkan mungkin bagi sebagian kaum wanita bisa dikatakan tulisan itu tak memanusiakan manusia dan tidak memiliki pesan moral sedikitpun. karena toh wanita juga adalah mahluk ciptaan tuhan yang terkadang ingin ditinggikan dan dipoposisikan selayaknya manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Yaitu, suatu kedudukan atau  Keberadaan manusia sebagai mahluk penguasa bumi yang memegang peranan penting atas alam dan seisinya yang telah Tuhan titipkan kepadanya yang membuat manusia berada lebih tinggi dari mahluk manapun entah itu binatang, tumbuhan atau apapun benda yang ada dibumi. Maka cukup jelas,  Wanita bukan barang atau apapun yang dapat digunakan begitu saja, seenaknya atau juga hanya diambil keuntungannya saja. Yang lebih sadisnya, Wanita bukan sesuatu apapun yang halal dibuang setelah dipakai. Maka wajar bahkan pantas apabila kata-kata itu dikategorikan kedalam bahasa yang tidak memanusiakan manusia.

Di negaraku, wanita dan anak-anak ditinggalkan.
Di negaraku. wanita dan anak-anak kelaparan.
Di negaraku, wanita dan anak-anak mencari penghasilan.
Dan dinegaraku, sang bapak berkeliaran.

Ditengah-tengah maraknya poligami, kawin kontrak dan pengesahan UU nikah siri. Aku ditampar oleh tayangan-tayangan televesi tanah air yang mendeskripsikan betapa malangnya seorang ibu yang menggantikan peranan sang bapak dan betapa kejamnya seorang anak yang seharusnya duduk dibangku sekolah dengan memakai seragam rapi dan beberapa buku di genggaman tanganya. Ia harus memeras keringat dengan mengamen bahkan meminta-minta dijalanan.  Sungguh naas, bukan buku yang ada digenggaman tangannya tapi sebuah gitar, gelas aqua kecil,  atau apapun  saja yang dapat menjadikannya seseorang yang patut dikasihani.  Tak cukup sampai disitu, ia pun harus  rela berada ditengah teriknya matahari diwaktu dimana ia seharusnya duduk nyaman diatas bangku yang menjadikannya siap menatap masa depan.

 


Bermaksud positif namun akhirnya negatif. Mungkin itu suatu titik tolak yang pantas untuk istilah-istilah yang dinamakan poligami ataupun nikah siri. Betapa tidak?, layaknya tulisan dinding "GUNAKAN LISTRIK SEPERLUNYA" yang di awal kemunculannya berisi pesan-pesan positif. Seiring perubahan dan seleksi alam kini telah berganti dengan suatu argumen atau anggapan yang keliru. Menilik sejarah awal kemunculan poligami contohnya,  Selain dikategorikan sunnah Rasul poligami juga dimaksudkan agar kaum yang berpoligami bersifat adil, saling menolong,  peduli dan mampu menjaga wanita. oke, kurang lengkap sepertinya kalo aku tidak bercerita tentang mengapa Rasulullah S.A.W (jawab: sollualaih) beristri banyak.

Suatu ketika, Pernah kubertanya kepada seorang guru yang mengasuhku. "maaf bu, kalo misalnya bapak ingin menikah lagi atau bahasa kerennya berpoligami ibu siap?" celetukku mengawali pembicaraan dipagi itu. Guruku: "Alah kamu nh apa toh gus?". Dengan perasaan malu, g enak, sungkan, dan bingung kenapa aku berani-beraninya bertanya seperti itu  dan bahkan perasaan takut pun kini mulai menggelantungiku. Jauh dalam lubuk hatiku Bertanya "Aku iki kok goblok yo? isuk-isuk wes golek perkoro! petuk petuk!" 
 
Cukup lama aku terkunci dalam ketidak nyamanan ini. Hingga akhirnya perasaan takut, malu, g enak dan apapun itu memudar bahkan rasanya percakapan ini tak perlu diteruskan lagi karena aku kini ingin tertawa lepas mendengar tanggapan Guruku. "it's oke, selama kewajiban lahir batin tercapai, kenapa tidak?" (its oke? wasaili? sejak kapan orang yang aku takuti karena sungkanku terhadapnya ini berubah jadi ibu-ibu gaul? hahaha). "Dan meskipun itu sunnah rasul tapi kita terlebih dahulu mengetahui apa tujuan sunnah itu sebelumnya" lanjut guruku. Kemudian jadilah Ia bercerita panjang lebar tentang mengapa Rasulullah berpoligami (beristri banyak). Di awal pernikahannya dengan Siti Khadijah waktu itu Siti khadijah adalah wanita muslim pertama (dengan kata lain satu-satunya)  dan berumur 40 tahun dengan status janda beranak empat. Kemudian Saudah binti Zum'ah adalah seorang wanita umur 70 tahun berkulit hitam dengan 12 orang anak yang ditinggalkan suaminya yang meninggal di medan pertempuran ketika membela Nabi. Selain itu juga dengan menikahinya diharapkan Nabi mampu melindunginya agar tidak murtad karena memang padawaktu itu Saudah sedang diguncang keimanannya dikarenakan ditinggalkan suaminya dan ketidaksanggupannya untuk menafkahi keduabelas anaknya. Istri ketiga, Aisyah dinikahi saat aisyah sudah baligh (umur 9thn) namun tinggal dengan Nabi saat umur 19 tahun (tidak dapat dikategorikan fedofil, karena memang tujuannya tidak untuk keperluan hawa nafsu semata). selama belum tinggal dengan Nabi, Aisyah hanya sebagi seorang murid yang berguru kepada nabi meskipun status aslinya sudah menikah. Dan diharapkan kelak Aisyah dengan statusnya sebagi wanita yang cerdas mampu mengajarkan masalah kewanitaan sepeninggal Nabi kepada seluruh umat islam. Kemudian dilanjutkan Hafsah binti umar, Zainab binti jahsy, Ummu salamah, Ummu habibah, Juwariyah bin al-harist, shafiyyah binti hayyi, Maimunah binti al-harist, Zainab binti khuzaimah, dan Mariyah alqibtiyah.


Oke cut-cut! (bak sutradara yang memotong cerita), Muncul inisiatif untuk membuatkan tabel kenapa dan mengapa Nabi berpoligami agar menghindari kebosanan dalam membaca ceritanya. cekidot...

  
(nb: jika tabel kurang jelas, coba klik image yang bersangkutan)


Lanjut, Banyak orang mengatakan bahwa poligami itu sunnah Rasul. Sehingga banyak orang juga yang berpoligami dengan alasan bahwa itu sunnah Rassul. Namun sebenarnya jika ditelaah lebih jauh atas kehadiran Poligami. Keadilanlah sebenarnya yang memegang peranan penting atas kehadiran poligami sebagai anjuran sunnah rasul. Jadi, dapat dikatakan seharusnya untuk alasan berpoligami lebih berbobot jika keadilanlah yang memacu setiap orang untuk berpoligami. Maksudnya, jika sunnah rasul dapat dikategorikan sebagi alasan klasik maka alasan modernnya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Tentu saja, dengan berpoligami maka para poligamers harus siap untuk menjunjung tinggi nilai nilai keadilan.  Dan jika keadilan itu tercapai, tentu saja aplaus untuk anda wahai manusia-manusia adil. (poligamers: suatu istilah yang aku rumuskan untuk orang-orang yang berpoligami, anda boleh setuju ataupun tidak. Karena itu hak anda).

Ketika aku bertanya kembali tentang konsep keadilan apa yang diharapkan seorang wanita atas poligami? Kemudian guruku menjawab "keadilan itu bersifat semu gus, antara batasan hak dan kewajibanpun tak cukup menggambarkan makna keadilan itu sendiri. Dan Meskipun dilain sisi seorang wanita telah mendapatkan hak-haknya sebagai seorang istri yang dipoligami namun tetap saja status itu masih sebagai hal rumit yang tidak mampu dilaksanakan dengan mudahnya. Kemudian aku bergumam dalam batinku "Sebegitu rumitkah keadilan itu?" jika keadilan itu sendiri amat rumit lantas bagaimana dengan poligami? hanya orang-orang yang diberkahi keluhuran akhlak dan morallah yang pantas menyandang poligamers. Lama aku terdiam memikirkan hal itu, tiba tiba saja terdengar kata-kata "wes ndang sekolah kono, wes jam piro iki?" akhir kata guruku menutup pembicaraan dikala itu dan bergegas masuk keruanganya. Astaga! saking asyiknya mengobrol, akupun sampai lupa atas kewajibanku. (hufth, Kayaknya aku gak cocok jd poligamers nh. hehe ^_^).


Oia, pesan untuk kawan! jangan pernah menginterpretasikan hal yang positif kedalam hal-hal yang berbau negatif. contohnya, berpoligami dahulu kala adalah hal yang sangat luhur namun kini banyak sebagian manusia yang tak bertanggung jawab menggunakan sejarah yang baik tentang poligami untuk kepentingannya semata yang menjadikan citra buruk atas poligami.

Untuk masalah nikah siri saya rasa setuju dengan pihak pemerintah. Ingat! kita berada dalam lingkungan Negara berkedaulatan bukan negara yang tanpa aturan. Meskipun dalam islam tidak dipermasalahkan namun al-qur'an juga tidak menganjurkan umatnya untuk melanggar aturan negara. So, posisikanlah semuanya itu pada posisinya agar semua benar adanya, agar semua berjalan pada porosnya dan agar semua dapat berfungsi sesuai fungsinya. Dan Untuk kawin kontrak? mahluk dari manakah dia? aku tak pernah mengenalnya dan tak ingin mengenalnya.
see you ^_^