Ketika wakil negeri ini dipenuhi para artis kondang, tukang jagal, dan para aparat keamanan negara. Seakan tak mau kalah, penarik becak pun kini tak canggung untuk menyuarakan keperkasaannya. Sungguh!, hanya satu kata yang ingin ku ucap saat ini, "I love you full demokrasi".
Ketika banyak Ku lihat kerusuhan, kekacauan, dan peperangan sebangsa, Aku tetap mencintaimu. Ketika para rakyat dibodohi, ditindas dan dirampas apa yang jadi miliknya, aku akan tetap mencintaimu. Dan ketika pemimpinku dicemooh dan dihina hingga disejajarkannya dengan binatang semisal gurita ataupun kerbau, tak ragu aku untuk berbicara aku tetap mencintaimu wahai demokrasi. Kemolekanmu, kecantikanmu dan keindahanmu sungguh tak ada keraguan didalamnya. Akupun berani berteriak lantang, "KAULAH YANG SEMPURNA WAHAI DEMOKRASI!!!".
Inilah kebebasan yang kau ciptakan, kau suguhkan, dan kau nyanyikan. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu yang tak lebih sempurna dari-Nya (Tuhan). Demokrasi ciptaan manusia ini mampu melebihi kesempurnaan penciptanya. Demokrasi yang didalamnya terdapat cita, moral, etika dan nilai luhur amat disayangkan terlalu jauh melampaui penciptanya. Entah mana yang tak setia kawan ketika manusia dan demokrasi tak mampu jalan bergandengan, saling merangkul dan saling megingatkan. Yang jelas, Manusia tidak lebih sempurna dari hasil ciptaannya.
Wahai demokrasi, engkau diciptakan agar kehidupan manusia lebih baik dan tertata rapih agar saling menghormati, agar jernih dalam bertindak, agar tidak saling bunuh dan agar yang lain yang menjadikan manusia bernama manusia. Tak cukup satu kata, dua kata hingga beribu-ribu katapun tetap tak mampu menggambarkan kesempurnaanmu. Cita-cita yang tersirat dari penciptaanmu begitu luhur, kebebasan yang kau janjikan sungguh membutakan mata penciptanya. Hingga kini dari penciptaanmu , banyak orang yang menjadikan dirimu suatu lambang kebebasan yang tak tentu arah dan tak jarang juga banyak orang yang menjadikanmu kambing hitam atas tindakannya. Atas tindakan yang tak bermoral, tak beretika, dan tak memiliki nilai-nilai positif.
Demokrasi, Kian hari keberadaanmu semakin membawamu pada curam Utopis, sebuah cita cita (impian) yang dianggap ideal dan sempurna, namun tak pernah menemukan titik terang sehingga keberadaanmu tetap dalam angan penciptamu dan tak pernah beranjak menjadi nyata. Sebenarnya kau ini (demokrasi) yang harus manusia patuhi atau kau yang harus patuh kepada manusia. Aku sulit menggambarkan kedudukanmu dimata manusiai. Kau berada diatas sebagai cita-cita, kau berada dibawah sebagai pijakan atau kau berada ditengah-tengah sebagai pelindung?. Entahlah...
Ketika banyak Ku lihat kerusuhan, kekacauan, dan peperangan sebangsa, Aku tetap mencintaimu. Ketika para rakyat dibodohi, ditindas dan dirampas apa yang jadi miliknya, aku akan tetap mencintaimu. Dan ketika pemimpinku dicemooh dan dihina hingga disejajarkannya dengan binatang semisal gurita ataupun kerbau, tak ragu aku untuk berbicara aku tetap mencintaimu wahai demokrasi. Kemolekanmu, kecantikanmu dan keindahanmu sungguh tak ada keraguan didalamnya. Akupun berani berteriak lantang, "KAULAH YANG SEMPURNA WAHAI DEMOKRASI!!!".
Inilah kebebasan yang kau ciptakan, kau suguhkan, dan kau nyanyikan. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu yang tak lebih sempurna dari-Nya (Tuhan). Demokrasi ciptaan manusia ini mampu melebihi kesempurnaan penciptanya. Demokrasi yang didalamnya terdapat cita, moral, etika dan nilai luhur amat disayangkan terlalu jauh melampaui penciptanya. Entah mana yang tak setia kawan ketika manusia dan demokrasi tak mampu jalan bergandengan, saling merangkul dan saling megingatkan. Yang jelas, Manusia tidak lebih sempurna dari hasil ciptaannya.
Wahai demokrasi, engkau diciptakan agar kehidupan manusia lebih baik dan tertata rapih agar saling menghormati, agar jernih dalam bertindak, agar tidak saling bunuh dan agar yang lain yang menjadikan manusia bernama manusia. Tak cukup satu kata, dua kata hingga beribu-ribu katapun tetap tak mampu menggambarkan kesempurnaanmu. Cita-cita yang tersirat dari penciptaanmu begitu luhur, kebebasan yang kau janjikan sungguh membutakan mata penciptanya. Hingga kini dari penciptaanmu , banyak orang yang menjadikan dirimu suatu lambang kebebasan yang tak tentu arah dan tak jarang juga banyak orang yang menjadikanmu kambing hitam atas tindakannya. Atas tindakan yang tak bermoral, tak beretika, dan tak memiliki nilai-nilai positif.
Demokrasi, Kian hari keberadaanmu semakin membawamu pada curam Utopis, sebuah cita cita (impian) yang dianggap ideal dan sempurna, namun tak pernah menemukan titik terang sehingga keberadaanmu tetap dalam angan penciptamu dan tak pernah beranjak menjadi nyata. Sebenarnya kau ini (demokrasi) yang harus manusia patuhi atau kau yang harus patuh kepada manusia. Aku sulit menggambarkan kedudukanmu dimata manusiai. Kau berada diatas sebagai cita-cita, kau berada dibawah sebagai pijakan atau kau berada ditengah-tengah sebagai pelindung?. Entahlah...
Tidak ada komentar :
Posting Komentar