Tak runtut, Tak mengenai maksud, bahkan
terkesan membingungkan. Ketika paradigma dunia nyata aku tuturkan dalam bahasa
tikus, kucing dan anjing. Begitu kata seorang temanku setelah ia membacanya.
Sesungguhnya, keruwetan itulah kawan yang sebenarnya ingin aku gambarkan
terhadap lakon republik dagelan seperti apa katamu. Ketika tikus bebas
berselingkuh dengan kucing ataupun anjing dan begitu juga sebaliknya. Itulah
Indonesia, tanah air tercinta milik aku, kamu, kami, kalian, mereka, kita
semua.
Indonesia yang kita banggakan atas
demokrasinya kini telah berubah menjadi indonesia bebas, lepas, terlepas dan
semaunya. Kita bebas mencaci, menjatuhkan, bahkan kitapun dibebaskan untuk
saling menghantam. Setuju atau tidak, tapi itulah realita yang aku tangkap
ketika aku melihat sinetron yang kau suguhkan terhadapku. Sungguh memprihatinkan
lagi ketika para lakon republik dagelan itu saling berteriak dan tak canggung
untuk mengikutsertakan Tuhan terhadap drama yang mereka lakoni.
"Allahuakbar... merdeka!, merdeka!,
merdeka! allaaaaaaahuakbar!" entah apa makna yang terkandung dari teriakan
mereka itu. Satu yang tak bisa kupahami, sejak kapan Tuhan ikut berpolitik,
atau sejak kapan lafadz 'Allahuakbar' bebas dipergunakan diforum yang tidak ada
kejelasan moral dan etikanya?. Sebagai hamba Tuhanpun aku tak kuat rasa menahan
hinaan itu, hinaan yang sudah tidak lagi mensakralkan posisi Tuhan. Itu kita
yang hanya sebagai hambanya, bagaimana dengan Tuhan? telah Ia ciptakan mulut
kita untuk kita rawat ucapannya agar kita tidak sembrono. Namun realitanya,
siciptaan itu memang takpernah berterimakasih atas anugrah yang telah Tuhan
berikan kepadanya. Hingga masalah duniapun tak canggung mereka melibatkan Tuhan
didalamnya. Sesuatu yang patut dipertanggung jawabkan jika suatu saat nanti
terbukti teriakan 'Allahuakbar' itu hanya bermakna sebuah batu besar tempat
para lakon dapat bersembunyi?. Bukan itu yang aku dan hamba-hamba lain
inginkan. Kita hanya ingin 'Allahuakbar' digunakan pada sesuatu yang benar
saja, bukan pada hal yang tak jelas salah maupun benarnya.
Belum cukup kekecewaan itu terobati, lakon
itu kini kembali berulah. Yang seharusnya dipundak mereka jutaan rakyat
Indonesia digendongnya, di otak mereka jutaan rakyat Indonesia berharap,
ditangan mereka jutaan rakyat Indonesia menitipkan negara, dikaki mereka jutaan
rakyat Indonesia bersimpuh. Dan pada diri merekalah jutaan rakyat Indonesia
meminta keadilan. Tapi apa yang dilakukan para lakon? Pundaknya mereka biarkan
tergeletak sejajar dengan kepalanya untuk kemudian bermimpi. diotak mereka
kerakusan telah menjadi bagian hidupnya. Ditangan mereka gaya hidup dan
kepentingan pribadi telah menjadikan mereka lupa akan kewajibannya. Dikaki
mereka kita tak mampu ikut serta berjalan. Lalu apa lagi yang kita harapkan
atas diri mereka? Keadilan yang hanya sebatas kata-kata itukah yang menjadi
acuannya. Mengenaskan...
Setauku, inilah kerjaan para lakon bergajih
tinggi itu: Tidur kemudaian saling hantam. Online untuk sekedar mengeksiskan
diri mereka ataupun hanya bermain game dengan properti kepuanyaanya. Atau
bahkan hanya untuk sekedar (maaf) mengupil. Bahkan mungkin suatu saat (Semoga
tidak terjadi) mereka sudah tak canggung lagi untuk hanya sekedar menggaruk
(maaf) pantat atau barang kepunyaannya (aku sebut itu dengan ritual 'mlintir') J
Wajar bukan jika orang-orang sepertiku pada
akhirnya mengalami krisis kepercayaan?. Lebih lagi, Apakah kalian para lakon
pernah berpikir kenapa aku memilihmu?. Aku takut dosa wahai orang yang kupilih,
ketakutan akan dosa atas tindakanku jika aku tidak memilih salah satu dari
kalian. Bagaimana tidak, terang-terangan MUI mengeluarkan fatwa GOLPUT = HARAM.
Itu artinya jika aku tidak memilih salah satu dari kalian maka aku sudah
berbuat dosa. Sungguh sebuah dilema ketika aku berlari dari dosa yang satu
malah terjerumus pada dosa yang lain. Dosa yang mengantarkanku pada pilihan
yang tidak tepat jika kau mengecewakanku wahai orang-orang yang terpilih.Sebuah
Dosa pada pilihan yang salah yang justru bau busuknya lebih menyengat jika aku
tidak memilihmu (golput). Jika sudah begini, biarlah kurelakan sebagian catatan
hidupku dilumuri Dosa yang telah kita perbuat. Aku salah memilih, dan kau salah
bertindak.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar