Baru saja membuka mata,
kulihat jam menunjukan pukul 2 siang. Teringat hari ini Timnas bulutangkis
Indonesia melakoni partai final Thomas cup 2010 melawan China. Kunyalakan tv
yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur. Seketika itu juga aku langsung menuju
chanel yang menyiarkan tayangan tersebut. “Sial!” Sesalku dalam hati. “Aku
tertinggal satu game.”
Kini para punggawa Indonesia
sedang menjalani pertandingan ke duanya. Terlihat pasangan ganda pria Indonesia
Markis Kido dan Hendra Setiawan sedang berjibaku melawan atlet China. Indonesia tertinggal 1-0 setelah pertandingan
yang tak ku lihat tadi, antara Taufik Hidayat (Indonesia) versus Lin Dan
(china) dimenangkan oleh tim musuh.
Kusaksikan dan kunikmati pertandingan, sesekali aku berteriak lantang
“Indonesia!, Indonesia!” Entah mereka mendengar atau tidak, aku tak peduli.
Akupun tak mengerti maksudku ini apa. Mungkin ini sebagian rasa nasionalismeku
atas tanah pertiwi yang seketika muncul secara reflek ketika menonton para
pejuang bangsa itu.
2-0 kedudukan saat ini,
Timnas negaraku tampak tak berdaya digenggaman raket atlet China. Namun, aku
tak patah semangat untuk terus mendukung para pahlawan ini. Mungkin itu juga
yang dirasakan oleh para supporter yang sengaja datang untuk memberi dukungan secara
langsung. Teriakan bagi negeri yang bergejolak ini tetap menggema seantero
kuala lumpur yang menjadi tuan rumah ajang dua tahunan ini.
Bahkan serasa di negeri
sendiri tatkala melihat ribuan supporter negeri kita berlenggak lenggok kesana
kemari. Tanpa memperdulikan sorotan kamera yang mengikuti ekspresi para
supporter yang membanggakan ini. Sebuah nasionalisme yang ternyata mereka juga
rasakan.
Tertinggal 2-0 bukan berarti berhenti berteriak, berhenti memberi
dukungan ataupun berhenti berharap. “Masih ada satu game lagi Indonesiaku!”
kali ini teriakan ku lebih lantang dari teriakan sebelumnya. Inilah harapan
terakhir untuk membalikan keadaan. Jika kalah, maka China keluar sebagai juara.
Sekaligus kedua kalinya China mempecundangi Indonesia pada perhelatan tahun
ini. Sebagaimana diketahui, sebelumnya tim putri juga ditundukan tiga game
tanpa balas di semifinal Uber cup. Tentu saja, bukan ini harapan jutaan rakyat
Indonesia.
Pertandingan ketigapun dimulai, saatnya Simon Santoso beraksi. Tampak di
layar kaca ia berjuang gigih mencuri poin. Jarak antara ia dan lawannyapun
telah dilupakannya. Semua itu demi Indonesia yang sangat kita cintai ini.
Betapa tidak, dibanding musuhnya yang berada diperingkat 3 dunia, pebulutangkis
kelahiran Tegal ini hanya peringkat 12 dunia.
Terbukti di set pertama Simon Santoso unggul dengan selisih angka 21-19.
Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, ternyata lapar diperutku ini
sudah tak tertahan lagi. Kuputuskan untuk pergi ke burjo (warung makan) yang
letaknya tidak begitu jauh dari kosan. “Disanakan ada tv, pasti lagi nyetel Thomas cup. Makan sambil nonton
aja ah!” inisiatif itupun muncul. Kecewa dan pasrah, setibanya di TKP (Tempat Kerumunan Penonton).
Prediksi ku salah, kerumunan yang berteriak ini bukan sedang menonton Timnas
Indonesia. Tapi mereka sedang mendukung Persib Bandung, tim sepakbola andalan
daerah mereka.
Ya! Pemilik burjo ini adalah
fans sejati Persib atau yang lebih dikenal sebagai bobotoh alias Viking. Dengan
sangat terpaksa, akupun memesan nasi telur plus es teh. Sedang, kekecewaan ini
masih terasa membebani dan memunculkan pertanyaan “Dimana Nasionalisme
orang-orang ini? Kenapa lebih mementingkan tim daerah mereka daripada tim
negaranya?” Sungguh tak mampu otakku mencerna realita dihadapanku ini.
Berbicara tentang
nasionalisme, teringat dulu ketika aku wawancara untuk kepentingan sebuah
buletin kampus di Kulon Progo. Aku berkesempatan mengobrol dengan salah satu
petani setempat, Pak Widodo. Begitu ramah dan santun tutur katanya, seolah-olah
meruntuhkan kesan ‘mencekam’ saat pertama kali kupijakkan kaki diwilayah yang
tengah bersitegang dengan pemerintah ini.
Cukup lama aku berbincang
dengan sosok bertubuh tambun dihadapanku ini. “Maaf pak sebelumnya, kalau boleh
tau sebenarnya apa yang bapak dan orang-orang daerah sini perjuangkan?” tanyaku
pada pria asli Kulonprogo tersebut. Panjang jawaban yang diberikan, tak akan
nampak jika kita hanya melihat pria ini sekilas.
“Kami ini cuma mencoba
bertahan hidup kok mas, tak pernah terbesit diangan kami untuk mati tergeletak
mempertahankan tanah penghidupan ini. Namun kesejahteraan yang dijanjikan
pemerintah tak ingin kami mendengarnya karena kami sudah sejahtera tanpa adanya
pertambangan ditanah yang kita tanam. Selama ini janji pemerintah palsu mas,
jangan dikira karena kami bodoh lalu kami membiarkan anak cucu kami
mati kelaparan. Lebih baik kami menjadi
petani seumur hidup dari padi jadi buruh tambang yang mungkin berpenghasilan
lebih banyak namun suatu saat ketika tanah ini sudah tidak berguna dibiarkan
tergeletak lalu kami tumbang satu persatu. Kami cinta tanah ini mas, persetan
dengan Indonesia milik para penjilat. Tengoklah kami yang selalu tertawa dan
bercengkrama satu sama lain, saling asah saling asuh tak segan untuk saling
membantu satu sama lain. Kamipun berani berteriak, kami sudah sejahtera! Lalu
untuk apa pemerintah menawarkan kesejahteraan? Palsu mas! Tanpa adanya
Indonesiapun kami tetap sejahtera mas. Toh ketika tanah kita ini ditambang saya
yakin kesejahteraannya akan mandeg di pihak pemerintah. Lalu kami hanya
berharap kecipratan kesejahteraan itu dengan tergeletak menunggu mati. Kami
tegaskan kami lebih mencintai tanah ini dari pada Negara palsu milik para
penjilat dan kami siap mati untuk memperjuangkannya.”-terang pak Wid.
“Apakah ini primordialisme?”
gumamku dalam hati. Hening sejenak ketika Pak Widodo menyalakan sebatang rokok
yang diapit kedua jari tangan kananya. “Kami sebenarnya bukan pemberontak mas.
Bukan juga segerombolan orang yang ingin menikmati kekayaan alam ini sendiri.
Kami sedih ketika realita yang ada pemerintah lebih mementingkan perusahaan
asing untuk menambang tanah yang sudah dikelola turun temurun ini dari pada
kesejahteraan rakyat miskin seperti kami. Bukannya kami tidak mencintai Negara
ini, tapi perbaikilah moral Bangsa ini terlebih dahulu untuk kemudian kami
mencintainya dan rela bertumpah darah untuknya.”-lanjut pak Wid.
“Ini mas nasi telur sama es
tehnya” suara si penjual menyudahi nostalgiaku. Sebuah dialog dengan bapak
Petani yang membuatku kagum akan pola pikir yang tidak semua petani di
Indonesia memilikinya. Muncul pertanyaan dalam benakku, “sebegitu rumitkah
nasionalisme dimatanya?” Hingga saat ini, akupun masih penasaran. “Sudahlah…”
jawabku menghibur diri sembari menyantap hidangan yang telah tersaji.
Memang benar, Nasionalisme
sesungguhnya tidak sesimpel yang kita bayangkan. Jauh dibawahnya masih ada
primordialisme, dilanjutkan individualisme dengan ego dan kepentingan yang
bermacam-macam. Atau mungkin, Nasionalisme lebih rumit dari itu. Terlebih di
masa sekarang, kita mengenal istilah kepentingan kelompok dan bahkan
kepentingan partai. Lantas, kepentingan apa lagi yang sebenarnya kita cari?
Entahlah…
Kuturaden, 16 Mei 2010 I 03.00
Tidak ada komentar :
Posting Komentar