Sabtu, 22 Mei 2010

Nasionalisme Quo Vadis? (Bagian 1)

Baru saja membuka mata, kulihat jam menunjukan pukul 2 siang. Teringat hari ini Timnas bulutangkis Indonesia melakoni partai final Thomas cup 2010 melawan China. Kunyalakan tv yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur. Seketika itu juga aku langsung menuju chanel yang menyiarkan tayangan tersebut. “Sial!” Sesalku dalam hati. “Aku tertinggal satu game.”

Kini para punggawa Indonesia sedang menjalani pertandingan ke duanya. Terlihat pasangan ganda pria Indonesia Markis Kido dan Hendra Setiawan sedang berjibaku melawan atlet China.  Indonesia tertinggal 1-0 setelah pertandingan yang tak ku lihat tadi, antara Taufik Hidayat (Indonesia) versus Lin Dan (china) dimenangkan oleh tim musuh.

Kusaksikan dan kunikmati pertandingan, sesekali aku berteriak lantang “Indonesia!, Indonesia!” Entah mereka mendengar atau tidak, aku tak peduli. Akupun tak mengerti maksudku ini apa. Mungkin ini sebagian rasa nasionalismeku atas tanah pertiwi yang seketika muncul secara reflek ketika menonton para pejuang bangsa itu.

2-0 kedudukan saat ini, Timnas negaraku tampak tak berdaya digenggaman raket atlet China. Namun, aku tak patah semangat untuk terus mendukung para pahlawan ini. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh para supporter yang sengaja datang untuk memberi dukungan secara langsung. Teriakan bagi negeri yang bergejolak ini tetap menggema seantero kuala lumpur yang menjadi tuan rumah ajang dua tahunan ini.

Bahkan serasa di negeri sendiri tatkala melihat ribuan supporter negeri kita berlenggak lenggok kesana kemari. Tanpa memperdulikan sorotan kamera yang mengikuti ekspresi para supporter yang membanggakan ini. Sebuah nasionalisme yang ternyata mereka juga rasakan.

Tertinggal 2-0 bukan berarti berhenti berteriak, berhenti memberi dukungan ataupun berhenti berharap. “Masih ada satu game lagi Indonesiaku!” kali ini teriakan ku lebih lantang dari teriakan sebelumnya. Inilah harapan terakhir untuk membalikan keadaan. Jika kalah, maka China keluar sebagai juara. Sekaligus kedua kalinya China mempecundangi Indonesia pada perhelatan tahun ini. Sebagaimana diketahui, sebelumnya tim putri juga ditundukan tiga game tanpa balas di semifinal Uber cup. Tentu saja, bukan ini harapan jutaan rakyat Indonesia.

Pertandingan ketigapun dimulai, saatnya Simon Santoso beraksi. Tampak di layar kaca ia berjuang gigih mencuri poin. Jarak antara ia dan lawannyapun telah dilupakannya. Semua itu demi Indonesia yang sangat kita cintai ini. Betapa tidak, dibanding musuhnya yang berada diperingkat 3 dunia, pebulutangkis kelahiran Tegal ini hanya peringkat 12 dunia.  Terbukti di set pertama Simon Santoso unggul dengan selisih angka 21-19.

Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, ternyata lapar diperutku ini sudah tak tertahan lagi. Kuputuskan untuk pergi ke burjo (warung makan) yang letaknya tidak begitu jauh dari kosan. “Disanakan ada tv, pasti  lagi nyetel Thomas cup. Makan sambil nonton aja ah!” inisiatif itupun muncul. Kecewa dan pasrah, setibanya di TKP (Tempat Kerumunan Penonton). Prediksi ku salah, kerumunan yang berteriak ini bukan sedang menonton Timnas Indonesia. Tapi mereka sedang mendukung Persib Bandung, tim sepakbola andalan daerah mereka.

Ya! Pemilik burjo ini adalah fans sejati Persib atau yang lebih dikenal sebagai bobotoh alias Viking. Dengan sangat terpaksa, akupun memesan nasi telur plus es teh. Sedang, kekecewaan ini masih terasa membebani dan memunculkan pertanyaan “Dimana Nasionalisme orang-orang ini? Kenapa lebih mementingkan tim daerah mereka daripada tim negaranya?” Sungguh tak mampu otakku mencerna realita dihadapanku ini.

Berbicara tentang nasionalisme, teringat dulu ketika aku wawancara untuk kepentingan sebuah buletin kampus di Kulon Progo. Aku berkesempatan mengobrol dengan salah satu petani setempat, Pak Widodo. Begitu ramah dan santun tutur katanya, seolah-olah meruntuhkan kesan ‘mencekam’ saat pertama kali kupijakkan kaki diwilayah yang tengah bersitegang dengan pemerintah ini.

Cukup lama aku berbincang dengan sosok bertubuh tambun dihadapanku ini. “Maaf pak sebelumnya, kalau boleh tau sebenarnya apa yang bapak dan orang-orang daerah sini perjuangkan?” tanyaku pada pria asli Kulonprogo tersebut. Panjang jawaban yang diberikan, tak akan nampak jika kita hanya melihat pria ini sekilas.

“Kami ini cuma mencoba bertahan hidup kok mas, tak pernah terbesit diangan kami untuk mati tergeletak mempertahankan tanah penghidupan ini. Namun kesejahteraan yang dijanjikan pemerintah tak ingin kami mendengarnya karena kami sudah sejahtera tanpa adanya pertambangan ditanah yang kita tanam. Selama ini janji pemerintah palsu mas, jangan dikira karena kami bodoh lalu kami membiarkan anak cucu kami mati kelaparan. Lebih baik kami  menjadi petani seumur hidup dari padi jadi buruh tambang yang mungkin berpenghasilan lebih banyak namun suatu saat ketika tanah ini sudah tidak berguna dibiarkan tergeletak lalu kami tumbang satu persatu. Kami cinta tanah ini mas, persetan dengan Indonesia milik para penjilat. Tengoklah kami yang selalu tertawa dan bercengkrama satu sama lain, saling asah saling asuh tak segan untuk saling membantu satu sama lain. Kamipun berani berteriak, kami sudah sejahtera! Lalu untuk apa pemerintah menawarkan kesejahteraan? Palsu mas! Tanpa adanya Indonesiapun kami tetap sejahtera mas. Toh ketika tanah kita ini ditambang saya yakin kesejahteraannya akan mandeg di pihak pemerintah. Lalu kami hanya berharap kecipratan kesejahteraan itu dengan tergeletak menunggu mati. Kami tegaskan kami lebih mencintai tanah ini dari pada Negara palsu milik para penjilat dan kami siap mati untuk memperjuangkannya.”-terang pak Wid.

“Apakah ini primordialisme?” gumamku dalam hati. Hening sejenak ketika Pak Widodo menyalakan sebatang rokok yang diapit kedua jari tangan kananya. “Kami sebenarnya bukan pemberontak mas. Bukan juga segerombolan orang yang ingin menikmati kekayaan alam ini sendiri. Kami sedih ketika realita yang ada pemerintah lebih mementingkan perusahaan asing untuk menambang tanah yang sudah dikelola turun temurun ini dari pada kesejahteraan rakyat miskin seperti kami. Bukannya kami tidak mencintai Negara ini, tapi perbaikilah moral Bangsa ini terlebih dahulu untuk kemudian kami mencintainya dan rela bertumpah darah untuknya.”-lanjut pak Wid.

“Ini mas nasi telur sama es tehnya” suara si penjual menyudahi nostalgiaku. Sebuah dialog dengan bapak Petani yang membuatku kagum akan pola pikir yang tidak semua petani di Indonesia memilikinya. Muncul pertanyaan dalam benakku, “sebegitu rumitkah nasionalisme dimatanya?” Hingga saat ini, akupun masih penasaran. “Sudahlah…” jawabku menghibur diri sembari menyantap hidangan yang telah tersaji.

Memang benar, Nasionalisme sesungguhnya tidak sesimpel yang kita bayangkan. Jauh dibawahnya masih ada primordialisme, dilanjutkan individualisme dengan ego dan kepentingan yang bermacam-macam. Atau mungkin, Nasionalisme lebih rumit dari itu. Terlebih di masa sekarang, kita mengenal istilah kepentingan kelompok dan bahkan kepentingan partai. Lantas, kepentingan apa lagi yang sebenarnya kita cari? Entahlah…



Kuturaden, 16 Mei 2010 I 03.00

Tidak ada komentar :

Posting Komentar