Pagi itu, kubuka jendela kamarku. Hari ini cuaca begitu cerah. Sinar matahari terbit menyorot pelupuk mataku yang masih sayup. Kulihat jam dinding kamar yang memanggilku, ia berkata "lihatlah aku, aku sekarang berada di angka enam, taukah kamu wahai pemuda? kau telah menghabiskan sebagian perputaranku hanya untuk memanjakan tubuhmu! apa itu yang kau sebut perjuangan? sungguh keliru kau pemuda". Sejenak aku terpaku pada cemoohan jam dinding yang sok tau itu, lalu aku balas mencacinya "Kau mengingatkan aku karena kau ku beri energi dengan baterai yang kau hisap itu kan?, jika aku tak memberimu itu, masih maukah kau mengingatkan ku?" Kutinggalkan jam pamrih itu untuk kemudian aku turun menyusuri tangga setapak demi setapak. "Lapar sekali" keluhku dalam hati. 12 jam tertidur sama dengan aku beraktivitas. karena sama-sama lapernya. Sungguh merugi aku ini.
Kuputuskan pagi ini untuk sarapan bubur kacang ijo karena pikirku sepertinya enak sarapan manis-manis di pagi hari. 'Burjo Selaras' begitu judul poster yang terpampang diatas deretan menu yang menjelasan bahwa warung ini menyediakan berbagai minuman, bubur kacang ijo, mie rebus/ goreng dan berbagai mie macam lainnya yang sebenarnya sama sama berbahan mie mungkin yang berbeda cuma cara pengolahannya dan tentu saja nama yang terkadang memberikan kesan unik. Di paragraf selanjutnya seperti kebanyakan burjo lainnya tentu saja burjo ini juga menyediakan nasi telur yang begitu digemari sebagian mahasiswa pengidap kanker (kantong kering).
"Burjonya satu mba, pake susu gausah pake santen" segera aku memesan kepada mba penjual burjo yang sedang menggendong anaknya sambil melayani pelanggan itu. "Pake es engga mas" sahutnya. "Pake aja mba, biar seger" lanjutku. Sebentar kumenunggu, pesanankupun telah berada dihadapanku. Sungguh nikmat anugrah Tuhan dalam butiran kacang ijo ini. Kukunyah lalu kutelan seraya bergumam dalam hati "Manis yang kunikmati, semanis pagi ini dengan balutan keindahannya bagaikan beberapa tetesan susu yang ku pilah agar merata pada setiap butir yang kukunyah". Suasana pagi ini mengantarkan anganku berada jauh pada titik dimana aku berada sekarang. "Gudeg rasa peuyum" gambaran pagi ini kusimpulkan. Memang benar, secara tak langsung hari ini seperti aku tidak berada di Jogja, mungkin di Bandung atau mungkin daerah lain yang berpenghuni suku sunda. Dialog dialog penjual burjo ini dengan sesama penjual burjo lain yang tak sengaja ku mengupingnya mampu membukakan suasana yang berbeda dari Jogja yang kukenal. "Sungguh indah Indonesiaku ini" lagi lagi aku hanya mampu bergumam dalam hati.
Memang benar, Indonesiaku ini terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa, dan bahkan tidak menutup kemungkinan juga memiliki begitu banyak kepentingan. Dari perbedaan itu, sungguh indah negeriku jika harmoni antar penghuninya begitu mesra. Sungguh manis dan sungguh mengagumkan. Terbukti, berpuluh puluh tahun lalu semangat persatuanlah yang mampu memerdekakan Indonesia. Semangat yang patut dibanggakan, Namun 'Lain dulu lain sekarang' Indonesiaku kini sedang mengalami krisis persatuan. Coba liat saja, perang antar saudara dimana-mana. Dari kalangan bawah, tengah dan atas tak canggung saling hantam. Dari kalangan terpelajar dan yang tak tau apa-apapun sama saja. Peperangan bukan lagi hal yang memalukan. Kita seakan bangga pada kebobrokan mental pecundang kita. Bahkan ketika kita menyakiti saudara kita yang lain kita dengan bangga memamerkannya agar terlihat bahwa kita ini kuat. Sungguh aneh, ketika kebobrokan nilai, moral dan etika sudah tidak lagi berkesinambungan dengan rasa malu. Mungkin inilah tanda berakhirnya peradaban suatu negara yang menuju pada titik kehancurannya. Tak mampu aku mebayangkannya...
Memang benar, Indonesiaku ini terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa, dan bahkan tidak menutup kemungkinan juga memiliki begitu banyak kepentingan. Dari perbedaan itu, sungguh indah negeriku jika harmoni antar penghuninya begitu mesra. Sungguh manis dan sungguh mengagumkan. Terbukti, berpuluh puluh tahun lalu semangat persatuanlah yang mampu memerdekakan Indonesia. Semangat yang patut dibanggakan, Namun 'Lain dulu lain sekarang' Indonesiaku kini sedang mengalami krisis persatuan. Coba liat saja, perang antar saudara dimana-mana. Dari kalangan bawah, tengah dan atas tak canggung saling hantam. Dari kalangan terpelajar dan yang tak tau apa-apapun sama saja. Peperangan bukan lagi hal yang memalukan. Kita seakan bangga pada kebobrokan mental pecundang kita. Bahkan ketika kita menyakiti saudara kita yang lain kita dengan bangga memamerkannya agar terlihat bahwa kita ini kuat. Sungguh aneh, ketika kebobrokan nilai, moral dan etika sudah tidak lagi berkesinambungan dengan rasa malu. Mungkin inilah tanda berakhirnya peradaban suatu negara yang menuju pada titik kehancurannya. Tak mampu aku mebayangkannya...
Tidak ada komentar :
Posting Komentar