Rabu, 04 Agustus 2010

Potret Sepak Bola Nasional (part 1)

“Arema vs Sriwijaya, Daaah wasitnya diganti bapak-bapak yg berseragam coklat aja!. Rak mutu tenan!”. Celetuk seorang teman yang tak sabar menunggu pertandingan babak kedua. “Inilah potret sepak bola Indonesia bung!” Ucap komentator pertandingan seakan menimpali perkataan temanku tersebut.

Ya, memang inilah sepakbola tanah air dengan keunikan yang jelas tak dimiliki oleh persepakbolaan Negara lain. Tanpa mengurangi rasa hormat, tindakan Kapolda  Jawa Tengah yang dipimpin Irjen Alex Bambang Riatmojo dengan memberikan saran untuk mengganti wasit terasa sangat aneh.

"Ini wasit diganti atau tidak? wasit yang tidak adil  akan berpengaruh pada penonton. Lihat saja penonton disini sudah ramai sekali, sudah penuh. Kondisi keamanan bisa kami jamin tapi jika wasit tidak fair, kami bisa repot". papar Alex dikutip dari detik.com.

Ditengah pertandingan yang sedang berlangsung, Kejadian ini dianggap janggal oleh sebagian pecinta dan pengamat sepak bola Indonesia. Apalagi sampai mengakibatkan pertandingan yang digelar di stadion Manahan Solo ini sempat terhenti hingga satu jam lamanya.

"Saya rasa ini pertandingan yang menarik dan unik, karena baru pertama kali saya melihat hal seperti ini. Wasit diminta diganti padahal ia memimpin dengan baik," nilai Robert pelatih tim Arema Indonesia. “Bukankah hal yang wajar, ketika pemain saya (Noh Alam Sah.red) dikartu merah karena mengangkat kakinya terlalu tinggi” lanjut pria dengan nama lengkap Robert Rene Albert itu.

Wasit sebagai pemimpin pertandingan sudah seharusnya memegang penuh kendali tanpa diganggu gugat oleh pihak manapun. Dengan kata lain, ketika pertandingan masih berjalan maka hanya ada satu pemimpin yaitu wasit yang sedang bertugas. Meskipun nantinya keputusan wasit acap kali memicu kontrovesi, sudah selayaknya keputusan itu dihormati. Toh dengan alasan keamananpun wasit tidak begitu saja disalahkan kemudian diganti wasit lain.

Sepak bola sudah ada aturannya sendiri. Jika begini, untuk apa adanya perangkat pertandingan, dan untuk apa adanya lembaga seperti PSSI?. Memang benar, di Indonesia perbedaan kepentingan adalah hal yang lumrah . Sehingga tidak menutup kemungkinan dari perbedaan kepentingan tersebut hal-hal unik semacam inipun lantas terjadi.

Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), “Konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang berkembang atas kebangkitan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih”. Oleh karena itu, Mengenai hal ini kiranya para petugas kelembagaan saling berintegrasi untuk suatu hal yang lebih baik. Agar konflik tidak berlarut-larut. Karena menurut Taquiri pada logikanya konflik akan terus berlanjut jika tidak ada usaha untuk saling pengertian dari beberapa pihak yang sedang berkonflik atau yang sedang mempertahankan kepentingannya.

Penulis berharap untuk Kedepannya hal-hal semacam ini tidak lagi terjadi di persepakbolaan Nasional. Terlebih kepada para lembaga yang mendukung usaha pengembangan prestasi Indonesia ini juga mampu menghormati dan mempelajari peraturan yang sudah disepakati. Bukan kemudian membuat atau bahkan memaksakan peraturan baru, setuju?.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar