Sabtu, 27 Februari 2010

Ketika Seleksi Alam Merubah Makna Suatu Kata



Sebuah gambar kiriman salah satu temanku. ku harap tak terfikirkan adanya implementasi negatif.  Karena bila ditelaah lebih jauh, tulisan itu dimaksudkan untuk "GUNAKAN LISTRIK SEPERLUNYA" sebuah pesan positif untuk tidak boros dalam pemakaian dan penggunaan listrik.  Selain untuk menghemat biaya pesan itu juga bernilai tinggi karena dapat mengurangi dampak negatif dari pemakaian listrik yang berlebihan. Namun entah kenapa, seiring dengan memudarnya huruf L dan K. pesan positif itu berubah menjadi suatu kalimat yang mengandung pelecehan, tidak manusiawi bahkan mungkin bagi sebagian kaum wanita bisa dikatakan tulisan itu tak memanusiakan manusia dan tidak memiliki pesan moral sedikitpun. karena toh wanita juga adalah mahluk ciptaan tuhan yang terkadang ingin ditinggikan dan dipoposisikan selayaknya manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Yaitu, suatu kedudukan atau  Keberadaan manusia sebagai mahluk penguasa bumi yang memegang peranan penting atas alam dan seisinya yang telah Tuhan titipkan kepadanya yang membuat manusia berada lebih tinggi dari mahluk manapun entah itu binatang, tumbuhan atau apapun benda yang ada dibumi. Maka cukup jelas,  Wanita bukan barang atau apapun yang dapat digunakan begitu saja, seenaknya atau juga hanya diambil keuntungannya saja. Yang lebih sadisnya, Wanita bukan sesuatu apapun yang halal dibuang setelah dipakai. Maka wajar bahkan pantas apabila kata-kata itu dikategorikan kedalam bahasa yang tidak memanusiakan manusia.

Di negaraku, wanita dan anak-anak ditinggalkan.
Di negaraku. wanita dan anak-anak kelaparan.
Di negaraku, wanita dan anak-anak mencari penghasilan.
Dan dinegaraku, sang bapak berkeliaran.

Ditengah-tengah maraknya poligami, kawin kontrak dan pengesahan UU nikah siri. Aku ditampar oleh tayangan-tayangan televesi tanah air yang mendeskripsikan betapa malangnya seorang ibu yang menggantikan peranan sang bapak dan betapa kejamnya seorang anak yang seharusnya duduk dibangku sekolah dengan memakai seragam rapi dan beberapa buku di genggaman tanganya. Ia harus memeras keringat dengan mengamen bahkan meminta-minta dijalanan.  Sungguh naas, bukan buku yang ada digenggaman tangannya tapi sebuah gitar, gelas aqua kecil,  atau apapun  saja yang dapat menjadikannya seseorang yang patut dikasihani.  Tak cukup sampai disitu, ia pun harus  rela berada ditengah teriknya matahari diwaktu dimana ia seharusnya duduk nyaman diatas bangku yang menjadikannya siap menatap masa depan.

 


Bermaksud positif namun akhirnya negatif. Mungkin itu suatu titik tolak yang pantas untuk istilah-istilah yang dinamakan poligami ataupun nikah siri. Betapa tidak?, layaknya tulisan dinding "GUNAKAN LISTRIK SEPERLUNYA" yang di awal kemunculannya berisi pesan-pesan positif. Seiring perubahan dan seleksi alam kini telah berganti dengan suatu argumen atau anggapan yang keliru. Menilik sejarah awal kemunculan poligami contohnya,  Selain dikategorikan sunnah Rasul poligami juga dimaksudkan agar kaum yang berpoligami bersifat adil, saling menolong,  peduli dan mampu menjaga wanita. oke, kurang lengkap sepertinya kalo aku tidak bercerita tentang mengapa Rasulullah S.A.W (jawab: sollualaih) beristri banyak.

Suatu ketika, Pernah kubertanya kepada seorang guru yang mengasuhku. "maaf bu, kalo misalnya bapak ingin menikah lagi atau bahasa kerennya berpoligami ibu siap?" celetukku mengawali pembicaraan dipagi itu. Guruku: "Alah kamu nh apa toh gus?". Dengan perasaan malu, g enak, sungkan, dan bingung kenapa aku berani-beraninya bertanya seperti itu  dan bahkan perasaan takut pun kini mulai menggelantungiku. Jauh dalam lubuk hatiku Bertanya "Aku iki kok goblok yo? isuk-isuk wes golek perkoro! petuk petuk!" 
 
Cukup lama aku terkunci dalam ketidak nyamanan ini. Hingga akhirnya perasaan takut, malu, g enak dan apapun itu memudar bahkan rasanya percakapan ini tak perlu diteruskan lagi karena aku kini ingin tertawa lepas mendengar tanggapan Guruku. "it's oke, selama kewajiban lahir batin tercapai, kenapa tidak?" (its oke? wasaili? sejak kapan orang yang aku takuti karena sungkanku terhadapnya ini berubah jadi ibu-ibu gaul? hahaha). "Dan meskipun itu sunnah rasul tapi kita terlebih dahulu mengetahui apa tujuan sunnah itu sebelumnya" lanjut guruku. Kemudian jadilah Ia bercerita panjang lebar tentang mengapa Rasulullah berpoligami (beristri banyak). Di awal pernikahannya dengan Siti Khadijah waktu itu Siti khadijah adalah wanita muslim pertama (dengan kata lain satu-satunya)  dan berumur 40 tahun dengan status janda beranak empat. Kemudian Saudah binti Zum'ah adalah seorang wanita umur 70 tahun berkulit hitam dengan 12 orang anak yang ditinggalkan suaminya yang meninggal di medan pertempuran ketika membela Nabi. Selain itu juga dengan menikahinya diharapkan Nabi mampu melindunginya agar tidak murtad karena memang padawaktu itu Saudah sedang diguncang keimanannya dikarenakan ditinggalkan suaminya dan ketidaksanggupannya untuk menafkahi keduabelas anaknya. Istri ketiga, Aisyah dinikahi saat aisyah sudah baligh (umur 9thn) namun tinggal dengan Nabi saat umur 19 tahun (tidak dapat dikategorikan fedofil, karena memang tujuannya tidak untuk keperluan hawa nafsu semata). selama belum tinggal dengan Nabi, Aisyah hanya sebagi seorang murid yang berguru kepada nabi meskipun status aslinya sudah menikah. Dan diharapkan kelak Aisyah dengan statusnya sebagi wanita yang cerdas mampu mengajarkan masalah kewanitaan sepeninggal Nabi kepada seluruh umat islam. Kemudian dilanjutkan Hafsah binti umar, Zainab binti jahsy, Ummu salamah, Ummu habibah, Juwariyah bin al-harist, shafiyyah binti hayyi, Maimunah binti al-harist, Zainab binti khuzaimah, dan Mariyah alqibtiyah.


Oke cut-cut! (bak sutradara yang memotong cerita), Muncul inisiatif untuk membuatkan tabel kenapa dan mengapa Nabi berpoligami agar menghindari kebosanan dalam membaca ceritanya. cekidot...

  
(nb: jika tabel kurang jelas, coba klik image yang bersangkutan)


Lanjut, Banyak orang mengatakan bahwa poligami itu sunnah Rasul. Sehingga banyak orang juga yang berpoligami dengan alasan bahwa itu sunnah Rassul. Namun sebenarnya jika ditelaah lebih jauh atas kehadiran Poligami. Keadilanlah sebenarnya yang memegang peranan penting atas kehadiran poligami sebagai anjuran sunnah rasul. Jadi, dapat dikatakan seharusnya untuk alasan berpoligami lebih berbobot jika keadilanlah yang memacu setiap orang untuk berpoligami. Maksudnya, jika sunnah rasul dapat dikategorikan sebagi alasan klasik maka alasan modernnya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Tentu saja, dengan berpoligami maka para poligamers harus siap untuk menjunjung tinggi nilai nilai keadilan.  Dan jika keadilan itu tercapai, tentu saja aplaus untuk anda wahai manusia-manusia adil. (poligamers: suatu istilah yang aku rumuskan untuk orang-orang yang berpoligami, anda boleh setuju ataupun tidak. Karena itu hak anda).

Ketika aku bertanya kembali tentang konsep keadilan apa yang diharapkan seorang wanita atas poligami? Kemudian guruku menjawab "keadilan itu bersifat semu gus, antara batasan hak dan kewajibanpun tak cukup menggambarkan makna keadilan itu sendiri. Dan Meskipun dilain sisi seorang wanita telah mendapatkan hak-haknya sebagai seorang istri yang dipoligami namun tetap saja status itu masih sebagai hal rumit yang tidak mampu dilaksanakan dengan mudahnya. Kemudian aku bergumam dalam batinku "Sebegitu rumitkah keadilan itu?" jika keadilan itu sendiri amat rumit lantas bagaimana dengan poligami? hanya orang-orang yang diberkahi keluhuran akhlak dan morallah yang pantas menyandang poligamers. Lama aku terdiam memikirkan hal itu, tiba tiba saja terdengar kata-kata "wes ndang sekolah kono, wes jam piro iki?" akhir kata guruku menutup pembicaraan dikala itu dan bergegas masuk keruanganya. Astaga! saking asyiknya mengobrol, akupun sampai lupa atas kewajibanku. (hufth, Kayaknya aku gak cocok jd poligamers nh. hehe ^_^).


Oia, pesan untuk kawan! jangan pernah menginterpretasikan hal yang positif kedalam hal-hal yang berbau negatif. contohnya, berpoligami dahulu kala adalah hal yang sangat luhur namun kini banyak sebagian manusia yang tak bertanggung jawab menggunakan sejarah yang baik tentang poligami untuk kepentingannya semata yang menjadikan citra buruk atas poligami.

Untuk masalah nikah siri saya rasa setuju dengan pihak pemerintah. Ingat! kita berada dalam lingkungan Negara berkedaulatan bukan negara yang tanpa aturan. Meskipun dalam islam tidak dipermasalahkan namun al-qur'an juga tidak menganjurkan umatnya untuk melanggar aturan negara. So, posisikanlah semuanya itu pada posisinya agar semua benar adanya, agar semua berjalan pada porosnya dan agar semua dapat berfungsi sesuai fungsinya. Dan Untuk kawin kontrak? mahluk dari manakah dia? aku tak pernah mengenalnya dan tak ingin mengenalnya.
see you ^_^

Rabu, 17 Februari 2010

Otot kawat, Balung besi, Ndas tank.

Selamat pagi duniaaa...
awal ku menyapa pagi ini. segelas kopi hangat  dan terhitung tiga batang rokok  tersisa dari keperkasaanya dua bola mata yang tak mau terpejam meski lelah ini memeluk erat seluruh tubuhku (lebaaay). Ingin rasanya memanjakan lelahku tergeletak di atas birunya hamparan yang menyejukkan bersama kicauan burung yang memainkan indahnya pesona pagi ini. Namun aroma perjuangan itu kini masih mampu mengobarkan semangatku untuk tidak melewatkan pesonanya (pagi ini). Untuk berjuang bersama mimpi-mimpiku. Yap! maksimal lima tahun. Kurencanakan itu terhitung dari sekarang untuk hari esok dan seterusnya dengan harapan. 2013 ku siap menatap hidup baru. Ingin rasanya lebih cepat dari itu,  namun dari hal-hal yang ku anggap terlalu tinggi itu. Ku ambil sesuatu yang  ku anggap bijak yang harus ku perjuangkan.

Kadang, ingin rasanya akupun menjadi mereka-mereka yang dengan didengar kata demi katanya saja mampu menjadikan orang-orang disekitarnya disibukkan dengan menelaah kata demi katanya untuk dijadikannya oleh mereka sesuatu yang berharga. Ya! ketika mereka (tak segan ku menyebut mereka si pintar) berbicara, jauh dibelakangnya, orang sepertiku masih mencoba menelaah kata demi kata. Sungguh naas,  untuk mengerti bahasa merekapun (yang pintar) butuh ribuan kamus untuk memahaminya.  Padahal yang jelas, letaknya bukan dibahasa yang mereka pergunakan dan juga bukan karena perbedaan bahasa. 

Pernah ku mendengar bedanya orang pintar dan tidak itu dikarenakan mereka (yang pintar) berkenalan terlebih dahulu dengan yang namanya 'membaca'. hmmm... Ingin rasanya aku juga turut berkenalan dengannya (membaca) dan kemudian dikenalkannya oleh ia (membaca) kepada yang dinamakan 'menulis'. Agar aku nantinya dapat bercengkrama mesra dalam harmoni yang tak terbatas dengan mereka yang dinamakan membaca dan menulis.

LANGKAH PERTAMA (dari perenungan lelahku).

Yang harus dibenahi: Otot kawat, Balung besi, Ndas tank! (ndas; kepala) (!)


Otot kawat, balung besi: bak gatot kaca yang selalu siap berjuang demi harapan dan kewajibannya!, pantang menyerah!...

Ndas tank: (bisa diistalahkan sama dengan; muka tebal) harus pede tentunya!, yap! selalu pede dalam menyampaikan gagasan dan ide-idenya (gak pemalu lagi) serta mewujudkan harapannya dengan tegap berdi namun tak menantang lawan. piss! akhir kata untuk sebuah perdamaian. ^_^

Sabtu, 13 Februari 2010

Pemimpin Kharismatik


Dikutip dari tulisan Ann Ruth Willner dan Dorothy Willner istilah ‘pemimpin kharismatik’ kini bermakna semakin meluas. Namun juga disertai dengan pemerosotan arti yang terkandung.

Secara historis, Max Weber mengambil istilah charisma dari perbendaharaan kata yang dipakai pada permulaan pengembangan agama Kristen guna menunjuk satu dari tiga jenis kekuasaan (authority) dengan pengklarifikasian klasik mengenai kekuasaan atas dasar suatu tuntutan yang sah.

Weber membedakan antara:

  1. Kekuasaan tradisional atas dasar suatu kepercayaan yang telah ada (estabilished) pada kesucian tradisi kuno.

  2. Kekuasaan yang rasional atau berdasarkan hukum (legal) yang didasarkan atas kepercayaan terhadap legalitas peraturan-peraturan dan hak bagi mereka yang memegang kedudukan, yang berkuasa berdasarkan peraturan-peraturan untuk mengeluarkan perintah.

  3. Kekuasaan kharismatik yang didapatkan atas pengabdian diri atas kesucian, sifat kepahlawanan atau yang patut dicontoh dari ketertiban atas kekuasaannya.

Lebih lanjut menurut Weber, istilah kharismatik pada masa kini berbeda dengan ketiga hal lainnya namun tetap mempertahankn aspek loyalitas (pengabdian).

Kharismatik diyakini memiliki sesuatu yang luar biasa. Memimpin dengan cara yang tidak lazim dari sesuatu yang telah dikenal. Serta mampu mematahkan hal-hal terdahulu untuk kemudian menciptakan hal-hal baru bersifat revolusioner yang mampu tumbuh dalam keadaan serumit apapun.

Dari segi kemunculannya, kharisma yang disematkan pada seorang pemimpin lazimnya terlontar pada persepsi rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian, dapat didefinisikan kembali (tanpa keluar dari maksud Weber yang hakiki) Kharismatik adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mendapatkan kehormatan, ketaatan serta kehebatannya sebagai sumber dari kekuasaan tersebut dengan penekanan dalam setiap interaksinya (antara pemimpin dan pengikutnya) harus terdapat suatu integritas yang continue. Dengan kata lain, diwajibkan akan adanya kesadaran pada benak kita untuk bersatu pada satu tujuan, satu keinginan, satu cita-cita, satu harapan, dan satu perjuangan. Kemudian, barulah kita berharap akan muncul sosok pemimpin kharismatik yang dicintai, dihargai, dan dihormati.

Tentu saja, pemimpin kharismatik adalah pemimpinan nasional yang mampu menggandeng semua kelompok, golongan, etnis, suku, agama dan siapapun saja untuk mendapatkan kesetiaan.


Tinjauan Pustaka:

Antlov, Hans dan Sven Cederroth. 2001. Kepemimpinan Jawa: Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Burns, J.M. 1978. Leadership. New York: Harper Row.
Kartodirdjo, Sartono. 1984. Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3S.
Machiavelli, Niccolo. 2008. The Prince 'Sang Penguasa'. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.

Kepemimpinan Dalam Lantunan Syair Masa Lampau

EMHA Ainun Nadjib sosok yang lebih kita kenal dengan sapaan akrab Cak Nun pernah melantunkan kembali syair masa lampau penuturan Sunan Ampel dengan dentangan bait perbait kata yang begitu menyentuh. Syair ‘lir ilir’ seakan-akan mampu dibuatnya memasuki kesadaran tertinggi pada tahap penyadaran tentang siapa dan bagaimana tokoh pemimpin seharusnya. Cak Nun bertutur dalam syairnya menerangkan ‘lir ilir’, bait perbaitnya tak luput dari pandangan Ia sebagaimana seharusnya manusia menjalani hidup. “ Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh?, bisakah kekecewaan bahkan keputus-asaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini. Pada akhirnya nanti akan kikis. Adakah kemungkinan kita bisa merangkak naik ke bumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam. Akankah api akan berkobar-kobar lagi. Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air. Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain. Jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan. Adakah kemungkinan kita tau apa apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Bersediakah kita sebenarnya untuk tau persis apa yang sesungguhnya kita cari. Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita. Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar. Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu disesali dari prilaku-prilaku kita yang kemarin. Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan. Masih tersediakah ruang didalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata pada diri sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia, tetapi juga kita. Masih tersediakah ruang didalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan. Meskipun barangkali menyakitkan diri kita sendiri. Mencari hal-hal yang benar-benar kita butuhkan, agar supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar-benar sembuh total. sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomer satu bukan yang diluar diri kita tetapi didalam diri kita. Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini bahwa harus betul-betul disembuhkan justru adalah sesuatu yang berlaku didalam hati dan akal pikiran kita. Kanjeng sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita, tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri. Namun tak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair itu Ia telah lantunkan, dan tidak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah faham. Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita sendiri. Alpha beta, alif, ba’, ta kebingungan sejarah kita dari hari kehari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terberi. Menggeliatlah dari matimu tutur sang Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun. Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu. Sungguh negeri ini adalah penggalan surga, surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya, dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya. Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan. Tidak mungkin kau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai pleh negeri-negeri lain yang manapun. Tapi, kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan. Pada seorang pemimpin, kanjeng sunan Ampel tidak memilih figur misalnya seorang jendral, intelektual-intelektual, ulama-ulama, seniman-seniman, sastrawan-sastrawan, atau apapun. tetapi ‘cah angon’. Beliau juga menuturkan ‘penekno blimbing kuwi’ bukan penekno pelem kuwi, bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah lainnya. Tetapi blimbing yang bergigir lima. Terserah apa tafsirmu mengenai lima. Yang jelas, harus ada yang memanjat pohon yang licin itu. ‘Lunyu-lunyu penekno’ agar blimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang harus memanjat adalah ‘bocah angon’ anak gembala, tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kiyai, boleh seorang jendral, atau siapapun namun ia harus memiliki daya ‘angon’ daya menggembalakan. Kesanggupan untuk ‘ngemong’ semua pihak. Karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis sesultan kedamaian bersama pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan. ‘Bocah angon’ adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini. Sang bocah angon (penggembala) harus memanjatnya. Harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya. Bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan. Dan air saripati blimbing lima gigir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya?. Berdirilah engkau didepan pasar dan copotlah pakaianmu. Maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima.”- EmHa Ainun Nadjib dalam renungan ‘lir-ilir’.

Kepemimpinan Sebagai Bagian Budaya Bangsa

Konsep Kepemimpinan dalam hastha brata sebagai warisan luhur budaya bangsa. Dapat dijabarkan bahwa hastha brata atau delapan ajaran keutamaan, seperti yang ditunjukkan oleh sifat-sifat alam. Seorang pemimpin harus berwatak matahari, artinya memberi semangat, memberi kehidupan, dan memberi kekuatan bagi yang dipimpinnya. Harus mempunyai watak bulan, dapat menyenangkan dan memberi terang dalam kegelapan. Memiliki watak bintang, dapat menjadi pedoman. Berwatak angin, dapat melakukan tindakan secara teliti dan cermat. Harus berwatak mendung, artinya bahwa pemimpin harus berwibawa, setiap tindakannya harus bermanfaat. Pemimpin harus berwatak api, yaitu bertindak adil, mempunyai prinsip, tegas, tanpa pandang bulu. Ia juga harus berwatak samudera, yaitu mempunyai pandangan luas, berisi, dan rata. Akhirnya seorang pemimpin harus memiliki watak bumi, yaitu budinya sentosa dan suci.

Ki Hadjar Dewantara (1930) mengemukakan bahwa masyarakat Indonesia yang ingin maju secara wajar harus menganut sistem demokrasi dan kepemimpinan (democratie en leiderschap). secara umum, masyarakat Indonesia dari sudut pandang budayanya menjunjung tinggi pendapat orang banyak, pendapat rakyat umum yang mana didalamnya harus terkandung suatu kearifan bangsa. Tujuannya dalam pencapaian bersama, suatu kebenaran mutlak adalah sebagai pencapaian akhirnya.

Kepemimpinan itu sendiri, Ki Hadjar Dewantara menyimpulkan peran pemimpin adalah ‘tut wuri handayani’, artinya bahwa kepada masyarakat (pengikutnya) diberikan kesempatan untuk berkembang atas prakarsa sendiri dengan selalu diamati secara continue. Akan tetapi jika masyarakat berada dalam titik kebuntuan, proses dimana masyarakat menghadapi kemandegan dalam pengambilan tindakan dan berkreativitas. Tugas seorang pemimpin adalah ‘ing madya mangun karsa’ yaitu berada dalam kebuntuan tersebut dengan mengambil sikap dan kehendaknya. Bersama masyarakat sang pemimpin menunjukkan kreativitasnya dalam pencapaian tujuan. Namun jika akhirnya masyarakat berada dalam titik gelap. Seorang pemimpin haruslah ‘ing ngarsa sung tuladha’ artinya berada didepan untuk memberikan teladan kepada masyarakat. Jadi, konsep democratie en leiderschap (pemimpin berada di belakang ‘tut wuri handayani’ di tengah ‘ing madya mangun karsa’ dan di depan ‘ing ngarsa sung tuladha’) yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara itu memunculkan suatu konsep pandangan budaya Indonesia yang berakar yang tertanam rapi pada setiap dada bangsa Indonesia. Nasio yang merupakan harmoni antara bagian terbesar pendapat masyarakat dengan pengetahuaan pemimpin. Sehingga dapat dibayangkan suatu hasil kearifan tertinggi dengan faedah terbesar bagi bangsa.

Sosok pemimpin mengenai budaya bangsa adalah cara memelihara keadaan yang ‘tata tentrem’, sebuah konsep jawa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda sebagai istilah ‘rust en orde’ (kedamaian dan ketertiban) jika harga untuk menghindari kekacauan itu terarah kepada penguasa atau tuntutan kehidupan kelompok, demikian menurut Mulder. Harganya tidak mahal, karena kelangsungan dan keadaan damai merupakan sesuatu yang jauh lenih penting.

Sosok pemimpin menurut Keeler (1985) adalah dapat memenuhi citra ideal sebagai sosok teladan, seorang pemimpin yang berjiwa kuat, memikat dan penuh dengan sifat baik. Efektifitas kekuasaan diukur dengan kemampuan untuk menyembunyikan instrument kepemimpinan. Memolesnya, dan bukan memperlihatkan bahwa kekuasaanlah yang menjadikannya pemimpin. Budaya jawa tidak dapat dibatasi hanya pada ide tentang kekuasaan, dan ide tentang kekuasaan tidak dapat dibatasi hanya pada masalah tentang sosok teladan. “Budaya jawa adalah sekumpulan ide, norma, keyakinan dan nilai yang sangat beragam sehingga tidak mungkin dapat dilukiskan sebagai ‘keseluruhan yang padu’ sebaliknya, perhatian kita hendaknya dipusatkan pada distribusi dan reproduksi dari pengetahuan yang demikian beragam pada masyarakat”-Eldar Braken-. Itu artinya, masyarakat jawa dalam kepemimpinannya bukan hanya soal untuk memadukan berbagai aspek dalam kepemimpinan, tetapi lebih jauh lagi fokus kepemimpinan itu berada pada pola pikir masyarakat. Sejauh ini dapat disimpulkan, kepemimpinan itu erat hubungannya dengan bagaimana pola prilaku masyarakat dalam menjalani hidup. Artinya, kepemimpinan bukan suatu yang mutlak yang dapat disimpulkan begitu saja. Karena kepemimpinan itu sendiri memiliki berbagai acuan yang menyokongnya. Sehingga dalam penentuannya, konteks kepemimpinan harus lebih difokuskan terlebih dahulu. Sebab, moral, pola pikir dan prilaku masyarakat dapat lebih mempengaruhi proses kepemimpinan itu sendiri.

Menurut Niels Mulder, kata kunci untuk memahami demokrasi pancasila dan hak asasi manusia tidak terletak dalam pengertian kesetaraan tetapi didalam ide kekeluargaan. Dalam fungsinya sebagai suatu keluarga, dapat ditarik suatu argumen bahwa pada dasarnya, demokrasi pancasila yang dianut bangsa Indonesia itu menaungi suatu asas yaitu kekeluargaan. Kekeluargaan yang berarti keharmonisan antar individu, kerukunan antar individu, dan persatuan dan kesatuan bangsa. Dan oleh karena adanya kesatuan itulah tujuan dapat dicapai. Lebih lanjut, Niels Mulder menyamakan pemahaman bahwa apa yang baik untuk semua adalah baik untuk seseorang. Bangsa dipandang sebagai sebuah keluarga, atau paling tidak dipimpin oleh prinsip kehidupan keluarga. Kepentingan bersamanya merupakan kepentingan pribadi yang sama-sama dimiliki yang harus dilindungi dari anggota yang bukan keluarga, dan dari mereka yang tidak berprilaku menurut ketentuan keluarga. Dan tugas seorang pemimpin harus memiliki kualitas sebagai penunjuk jalan, atau pengasuh yang mendorong, memimpin dan membimbing mereka yang harus dididik. Dengan kata lain, seorang pemimpin adalah seorang bapak dan pelindung yang dapat dipercaya yang harus dihormati dan diteladani, yang prilaku dan keinginannya merupakan perintah dan menaruh perhatian pada anak buahnya (pengikutnya). Sehingga dapat diikatkannya menjadi satu dalam ikatan keluarga.


Daftar Pustaka:
Adam, James. 1975. The Republic of Plato. London: Cambridge University Press.
Antlov, Hans dan Sven Cederroth. 2001. Kepemimpinan Jawa: Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Burns, J.M. 1978. Leadership. New York: Harper Row.
Fung Yu-Lan. 2007. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kartodirdjo, Sartono. 1984. Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3S.
Machiavelli, Niccolo. 2008. The Prince 'Sang Penguasa'. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.

Agama dan Kepemimpinan

Indonesia adalah negara yang berdasarkan kepada keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sejatinya mengimplementasikan ajaran agama dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan agama kita mendapatkan nilai-nilai dasar kepemimpinan, jika hal tersebut dapat dimanifestasikan dengan sempurna akan menghasilkan integritas warga negara (pengikut) dengan pemimpinnya.

Georges Balandier dalam Religion and Power melandaskan suatu konsep bahwa “eratnya atribut kekuasaan (kepemimpinan) dan atribut agama menunjukan adanya ikatan yang selalu terdapat diantaranya. Sejarah cenderung memutuskan ikatan ini, namu tak pernah berhasil”. Dapat ditarik suatu penegasan bahwa agama dan kekuasaan atau yang lebih kita tujukan pada kekuatan pemimpin adalah suatu elemen yang tak terpisahkan. Dua hal yang saling berkesinambungan dan saling menopang dalam suatu kerangka konsep masing masing bagian. Merujuk pada pendapat Max Weber (1864-1920), agama-lah yang berjasa melahirkan perubahan sosial yang paling spektakuler dalam sejarah peradaban manusia. Dengan nilai-nilai keagamaan mendorong penganutnya untuk melakukan perubahan sosial dalam rangka melahirkan peradaban yang lebih humanis.

Esensi agama, menurut Hasan Hanafi, adalah sebagai sebuah kode etik universal dan ending - nya untuk mewujudkan perilaku yang baik. Dan prinsip (etik) universal, lanjut Hanafi, merupakan basis teoretis bagi etika global, dan perilaku baik merupakan dasar praktis bagi solidaritas kemanusiaan. Dan inilah yang sangat dibutuhkan dalam relasi menguasai dan dikuasai. Penguasa yang memiliki otoritas kekuasaan diharapkan mampu bertindak progresif. Bersamaan dengan itu, yang dikuasai (rakyat) memiliki kewajiban mengingatkan dan mengritik penguasa agar tetap berada pada rel kekuasaan yang seharusnya. Mengkritik dalam artian mendukung prospek penguasa.

Namun dengan demikian bukan berarti agama dijadikan suatu tameng atau menjadikannya jembatan keserakahan. Agama dalam bidangnya sebagai landasan moral dan bukan sebagai pencari keuntungan. Itulah sebabnya Gus dur pernah mengutarakan kekecewaannya atas seringnya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melandaskan agama untuk suatu kehancuran. “Jika seorang pemimpin agama menduduki jabatan birokrasi tanpa melepaskan unsur-unsur keagamaannya, bisa berakibat pada ketidakseimbangan dalam dua kutub itu. Akibatnya, sering orang-orang agama mencari keuntungan untuk penggemukan kelompoknya sendiri”. Dengan kata lain, Ia menafsirkan agama berfungsi sebagai inspirasi dalam segala kehidupan bernegara dan berbangsa dan bukan sebagai proses penggemukan keserakahan.

Sejatinya, agama sebagai landasan moral manusia untuk menciptakan suatu integritas dan membangkitkan nasionalisme terhadap bangsanya atau golongannya atau yang lebih kita tunjukan terhadap loyalitas kelompok. Sehingga seorang pemimpin mampu membawa dan membangkitkan kelompoknyas menuju sutu kebenaran.


Daftar Pustaka:
Adam, James. 1975. The Republic of Plato. London: Cambridge University Press.
Antlov, Hans dan Sven Cederroth. 2001. Kepemimpinan Jawa: Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Burns, J.M. 1978. Leadership. New York: Harper Row.
Fung Yu-Lan. 2007. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kartodirdjo, Sartono. 1984. Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3S.

Machiavelli, Niccolo. 2008. The Prince 'Sang Penguasa'. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.

Apa Itu kepemimpinan?

Leadership (kepemimpinan) adalah fenomena yang paling banyak dicermati dan paling jarang dimengerti”-James Macgregor Burns-(1978). Bagus Takwin dalam tulisannya yang berjudul akar-akar kepemimpinan berpendapat bahwa meskipun begitu banyak kajian tentangnya. Kepemimpinan tampil sebagai konsep multi-tafsir dengan beragam definisi, tidak dikenali batas-batasnya sehingga tidak dapat dipisahkan secara jelas dan terpilah dari hal-hal yang lain. Dalam pembahasannya mengenai batasan kata kepemimpinan dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan bukanlah suatu ‘substansi’ dengan pengertian bukan sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak hanya ada untuk dirinya sendiri. Kepemimpinan bersifat ‘relasi’ sesuatu yang keberadaannya terhubung dengan hal lain, sesuatu yang tidak dapat dikatan ada tanpa keberadaan hal yang berhubungan dengannya. Seperti kemanusiaan atau keadilan yang tak dapat dilihat langsung maknanya, kepemimpinan adalah sesuatu yang abstrak yang dihasilkan manusia dalam proses interaksinya dengan lingkungan. Dengan kata lain, kita harus mampu memahami konteks yang melingkupi kepemimpinan untuk dapat memahaminya. 

Secara lebih mendasar, kepemimpinan bukan hanya bicara tentang bagaimana menjadi pemimpin tetapi lebih jauh lagi bagaimana menjadi manusia. Dan kepemimpinan erat hubungannya dengan kondisi masyarakat sebagai sekumpulan manusia yang bersama-sama berusaha mencapai tujuan tertentu, mencapai kesejahteraan. Dengan kata lain, konsep kepemimpinan haruslah berorientasi kepada pencapaian kesejahteraan orang banyak. Karena, pada keberadaan realitas seorang pemimpin tak dapat lepas dari tujuan suatu kelompok atau golongan. 

“Ketegasan perintah ada di mulutnya, ketajaman persepsi ada di hatinya, dan keadilan dilidahnya.” Itulah kualitas pemimpin dalam cerita tentang Firaun yang tertuang lewat goresan-goresan hieroglif. Kepemimpinan digambarkan sebagai perpaduan antara pikiran, ucapan, perasaan dan kehendak untuk menghasilkan peraturan yang tegas, kebijakan yang menentramkan dan keadilan yang menyejahterakan. Kepemimpinan bukan hanya soal mempengaruhi dan mengorganisir suatu sekumpulan, kelompok atau golongan. Dalam tujuannya untuk mencari kebenaran bersama. Sang pemimpin harus percaya pada kemampuannya sendiri, dan harus dapat mempertahankan diri. Bukan tidak mungkin, seorang pemimpin kehidupannya selalu berkutat dengan persepsi sinis pihak yang merasa tidak sejalan, yang keberadaannya dapat meniadakan kepercayaan terhadap kualitas seorang pemimpin. Cukup jelas, seharusnya seorang pemimpin dihormati dan keberadaannya harus lebih ditinggikan dari pengikutnya. Niccolo Machiavelli dalam bukunya sang penguasa berpendapat, “ bila penguasa (pemimpin) yang sah memiliki sedikit maksud dan kebutuhan untuk melukai perasaan, lazimnya ia dicintai. Bila tak ada hal luar biasa yang membuatnya dibenci, masuk akal bagi warganya (pengikutnya) untuk taat padanya”. Suatu tanggung jawab besar sebagai rakyat (pengikut) untuk tetap percaya pada pemimpinnya. 

Dalam kerangka kepemimpinannya, seorang pemimipin haruslah memiliki kebijaksanaan, daya atau potensi untuk pencapaian kebenaran. Dan setidaknya seorang pemimpin memiliki pengetahuan tentang apa yang dipercayakan padanya serta harus dapat dipertanggungjawabkan. “Keutamaan seorang pemimpin adalah pengetahuannya tentang kebenaran dan jalan mencapai kebahagiaan manusia. Kepemimpinan adalah kebijaksanaan yang memungkinkan manusia mengenali kebenaran, rasionalitas yang melahirkan kebahagiaan dan moralitas yang menjaga kelurusan di jalan yang benar”-Plato-. Mutlak sebagai seorang pemimpin memiliki daya juang untuk mengangangkat suatu kebajikan yang tersirat suatu kebenaran. Dan seorang pemimpin haruslah mengandalkan apa yang ada dalam dirinya, apa yang ada dalam kekuasaannya, dan bukan pada apa yang ada dalam kekuasaan orang lain. 

Lao-tzu dalam kitab Tao Te Ching menggambarkan seorang pemimpin sebagai suatu harmoni alam. “Kepemimpinan adalah harmoni, kesediaan dan kelenturan mengikuti alam. dengan kata lain mampu meniadakan kediriannya, melepaskan egonya demi kepentingan pengikutnya.” Kepemimpinan adalah pelayanan, bukan kedirian atau kepribadiaan seseorang. Pemimpin yang bijak seperti air, membersihkan dan menyegarkan segala makhluk tanpa pilih kasih dan tanpa penilaian, bebas dan tak kenal takut masuk ke bagian terdalam setiap benda, cair dan responsive, mengikuti hukum dengan bebas. Bebas dalam artian dapat dipertanggungjawabkan. “Kepemimpinan adalah pengaturan atau pelurusan segala hal yang menyimpang dari tata cara alami. mengatur rakyat. Mengatur adalah meluruskan”-Confucius-. Pemimpin memerintah rakyat (pengikutnya) dan bukan menguasai rakyat (pengikutnya). Dalam tujuannya untuk pencapaian cita-cita bersama, sang pemimpin dalam konsep perjuangannya haruslah menciptakan suatu kondisi yang mana saling bekesinambungan dengan kepentingan bersama. Dengan kata lain, pergerakan kemana arah kepemimpinan harus selalu berada dalam konteks tujuan bersama. 

Menarik sepertinya berbicara tentang kesetiaan seorang pemimpin. Niccolo Machiavelli memiliki pandangan kompleks dari mana asal kesetiaan itu akan terasa amat tertanam pada nurani sang pemimpin. Nurani yang berarti tertanam jauh teramat dalam yang menjadikannya sebagai penonggak pemikiran dan pemandu jalan untuk sesuatu yang kita sebut sebelumnya sebagai tujuan bersama. “Tiap orang tahu betapa terpuji bagi seorang penguasa (pemimpin) untuk memelihara kepercayaan yang baik dan hidup dalam integritas, bukan dengan kelihaian”. Integritas yang berarti sesuatu yang baik atau hal-hal yang besar yang telah dicapai sang pemimpin meski terkadang mungkin kurang mendapatkan penghargaan. Namun pencapaiaan itulah sebagai kepuaasan sistem kerja seorang pemimpin dan bukan pujian ataupun penghargaan. Sedangkan kelihaian yang mampu membingungkan otak orang-orang lain adalah sesuatu yang mestinya tak dimiliki oleh setiap pemimpin. terserah anda ingin mengartikan kelihaian itu seperti apa. Yang jelas, pemimpin yang jujur berarti menjadikan kesetiaan sebagai landasan mereka. Dan perlu bagi seorang pemimpin menghindari sifat yang dianggap buruk yang dapat membuatnya kehilangan kekuasaan. 

Terlepas dari bagaimana seorang pemimpin memerintah dengan caranya. Setiap orang akan mengakui seorang pemimpin patut dipuji bila memiliki semua kualitas yang baik. Namun perlu dicamkan oleh setiap pengikutnya bahwa tidak semua itu bisa dimiliki atau dijalankan. Karena kondisi manusia tak memungkinkannya. Kita percaya bahwa tak ada manusia yang sempurna meskipun angan kita terkadang selalu membayangkan hal yang sempurna. Hal yang paling bijak ketika kita membicarakan sebuah kesempurnaan adalah berusaha mendekati kesempurnaan yang dimaksud.


Daftar Pustaka:
Adam, James. 1975. The Republic of Plato. London: Cambridge University Press.
Antlov, Hans dan Sven Cederroth. 2001. Kepemimpinan Jawa: Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Burns, J.M. 1978. Leadership. New York: Harper Row.
Fung Yu-Lan. 2007. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kartodirdjo, Sartono. 1984. Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3S.
Machiavelli, Niccolo. 2008. The Prince 'Sang Penguasa'. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.

http://bagustakwin.multiply.com/journal/item/12/Akar-akar_Kepemimpinan

Demokrasikah Kita???


Demokrasi! Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Siapa rakyat itu? Apakah orang-orang berdasi yang bersafari? Ataukah rakyat–rakyat jelata yang dibodohi? Sistem demokrasi kita ini sepertinya memang hanya untuk mereka-mereka yang punya nilai jual tinggi. Mereka yang ber argumen bahwa segalanya adalah uang. Demokrasi dengan sistem pemerintahan yang tidak jelas kemana asas-asas kedemokrasiannya. Dilain pihak mengatakan demokrasi adalah sistem yang mengangkat harkat martabat hak asasi manusia dalam memilih dan menentukan apa yang diinginkan setiap warga negara. hingga Saling gugat! Saling mencemooh! Bebas tanpa batas. Seakan-akan manusia diciptakan memang untuk di salahkan. Tak peduli entah itu sanak saudara, apalagi seorang rival! Aibnya adalah kemenangan bagi musuh-musuhnya. Kapan kita bisa maju Jika kita terus saling menyalahkan. Kapan kita bisa bangkit jika kita saling berebut kekuasaan. Saya menggugat! Karena memang toh! di negeri kita ini tak ada batasan dalam menggugat. Kita bebas menggulinkan siapa saja! Tapi apa yang kita dapat?. Ketika para tokoh papan atas saling memainkan makna demokrasi, ketika tokoh papan atas saling menjatuhkan!. Kita tetap saja susah. Lebih parah lagi! Demokrasi kita para rakyat jelata hanya dihargai segumpal sembako, seutas, sebungkus, seperangkat mungkin! Bahkan terkadang hanya berharga lima ribu perak saja!. Coba kita amati pada masa-masa pemilihan umum, yang katanya kita bebas menentukan dan memilih siapa calon pemimpin kita yang memang benar-benar pantas menjadi seorang pemimpin. Apakah dengan hanya memberi uang SEKECIL lima ribu perak! Seseorang dapat dikatakan pantas menjadi seorang pemimpin? dan itulah kenyataannya, Para rakyat yang masa bodoh! Rela menukarkan hak pilihnya dengan selembar uang lima ribuan! Syukur-syukur bisa lebih!. Apakah ini yang disebut demokrasi? Sepertinya demokrasi kita ini memang telah dirancang bagi para elit politik untuk memainkan panggung sandiwaranya, untuk saling berebut kekuasaan. Yah! Mungkin inilah Indonesia kita dengan sistem demokrasi tidak jelas yang tidak akan pernah ada keseragaman. Karena memang sistem demokrasi akan sulit menemukan titik temu! Dan hingga saat ini pun, saya masih mempertanyakan arti dari kata “untuk rakyat!” apakah untuk rakyat hanya lima ribu rupiah?

Mengenaskan!!!

Jumat, 12 Februari 2010

Budaya kebersamaan

Budaya makan enggak makan asal kumpul, gemeinschaft (paguyuban) atau mezzo-structures suatu bentuk interaksi sosial kekeluargaan, solidaritas sosial, perasaan menjadi satu kesatuan dalam rasa sepenanggungan, tenggang rasa atau tepa selira dengan nilai-nilai moral berupa penghormatan sesama manusia, tanggung­ jawab, kejujuran, kerukunan, dan kesetiakawanan. Disadari ataupun tidak disadari akhir-akhir ini telah menjauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Kebersamaan yang indah yang mulai terkikis oleh budaya-budaya indivi­dualis. Pandangan hidup yang mengagung-agungkan kebebasan personal yang mendorong manusia untuk mendahulukan kepen­tingan dan kebebasan pribadi tanpa memikirkan hak-hak orang lain. Sikap ini acapkali menjerumuskan manusia ke dalam perbenturan dengan pihak lain dalam hidup sosial. Penyanjung kebebasan seakan-akan tinggal di luar entitas sosial dan seolah-olah mereka tidak berdampingan dengan sesama. Keberadaan budaya kebersamaan sekarang lebih menjadi nilai-nilai yang semu dan artifisial, Menjauh dari titik nyatanya dan hanya sekedar simbol dipermukaan. Pudarnya nilai-nilai luhur telah menjadikan masya­rakat Indonesia menjadi ‘kasar’ dan tanpa perasaan, dan semakin menguat manakala hukum tidak lagi mempunyai kewi­bawaan untuk mengatur kita. Jika terus sperti ini, apakah kita masih layak disebut sebagai suatu bangsa?

Bangsa pada dasarnya merupakan suatu bentuk solidaritas kolektif; yang mana lebih menonjolkan elemen kebersamaan dan tidak menyoroti masalah ketidaksamaan ataupun eksploitasi. dalam konteks definisi kelompok social, Ferdinand Tonnies mengemukakan bahwa kelompok sosial adalah suatu bentuk kehidupan bersama, dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Batasan ini disebut Tonnies sebagai paguyuban atau gemeinschaft.

Tonnies menyebutkan beberapa ciri peguyuban, yaitu; (1)intimate, hubungan menyeluruh yang mesra antar individu dalam kelompok masyarakat. (2)Private, hubungan yang bersifat pribadi antar sesama anggota masyarakat, karena faktor pertalian darah. Dan yang ketiga adalah exclusive, yakni hubungan yang tertutup antara segenap anggota masyarakat sebagai suatu paguyuban. Oleh karena itu di dalam gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu common will (kemauan bersama), dan juga ada suatu understanding (pengertian bersama), serta kaidah yang timbul dengan sendiri dari kelompok tersebut. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan (yang harmonis) antar anggota kelompok. Asas persaudaraan ini dijaga oleh institusi negara yang memiliki kemampuan menjangkau segenap anggota dari suatu bangsa. Fungsi lain dari suatu bangsa adalah merusmuskan dan menegakkan aturan permainan, entah dalam kehidupan ekonomi, dan politik, maupun kemasyarakatan yang disepakati oleh anggotanya. Bangsa dibentuk oleh unsur kebudayaan, sejarah dan warisan tradisi lain yang pernah ada sebelumnya. Dikatakan sebagai suatu solidaritas kolektif karena memiliki lambang-lambang budaya sendiri seperti bahasa yang digunakan dalam wilayah teritorial tertentu, yang sebenarnya mencerminkan suatu kesatuaan. Oleh karena itu, konsep bangsa menonjolkan persaudaraan dan atau kebersamaan. Yang mana kebersamaan ini akan membentuk suatu komunitas politik, bangsa dan negara yang senantiasa mengalami proses rekonstruksi terus menerus sepanjang sejarah perkembangannya.