Sabtu, 13 Februari 2010

Kepemimpinan Dalam Lantunan Syair Masa Lampau

EMHA Ainun Nadjib sosok yang lebih kita kenal dengan sapaan akrab Cak Nun pernah melantunkan kembali syair masa lampau penuturan Sunan Ampel dengan dentangan bait perbait kata yang begitu menyentuh. Syair ‘lir ilir’ seakan-akan mampu dibuatnya memasuki kesadaran tertinggi pada tahap penyadaran tentang siapa dan bagaimana tokoh pemimpin seharusnya. Cak Nun bertutur dalam syairnya menerangkan ‘lir ilir’, bait perbaitnya tak luput dari pandangan Ia sebagaimana seharusnya manusia menjalani hidup. “ Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh?, bisakah kekecewaan bahkan keputus-asaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini. Pada akhirnya nanti akan kikis. Adakah kemungkinan kita bisa merangkak naik ke bumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam. Akankah api akan berkobar-kobar lagi. Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air. Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain. Jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan. Adakah kemungkinan kita tau apa apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Bersediakah kita sebenarnya untuk tau persis apa yang sesungguhnya kita cari. Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita. Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar. Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu disesali dari prilaku-prilaku kita yang kemarin. Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan. Masih tersediakah ruang didalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata pada diri sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia, tetapi juga kita. Masih tersediakah ruang didalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan. Meskipun barangkali menyakitkan diri kita sendiri. Mencari hal-hal yang benar-benar kita butuhkan, agar supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar-benar sembuh total. sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomer satu bukan yang diluar diri kita tetapi didalam diri kita. Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini bahwa harus betul-betul disembuhkan justru adalah sesuatu yang berlaku didalam hati dan akal pikiran kita. Kanjeng sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita, tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri. Namun tak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair itu Ia telah lantunkan, dan tidak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah faham. Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita sendiri. Alpha beta, alif, ba’, ta kebingungan sejarah kita dari hari kehari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terberi. Menggeliatlah dari matimu tutur sang Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun. Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu. Sungguh negeri ini adalah penggalan surga, surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya, dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya. Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan. Tidak mungkin kau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai pleh negeri-negeri lain yang manapun. Tapi, kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan. Pada seorang pemimpin, kanjeng sunan Ampel tidak memilih figur misalnya seorang jendral, intelektual-intelektual, ulama-ulama, seniman-seniman, sastrawan-sastrawan, atau apapun. tetapi ‘cah angon’. Beliau juga menuturkan ‘penekno blimbing kuwi’ bukan penekno pelem kuwi, bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah lainnya. Tetapi blimbing yang bergigir lima. Terserah apa tafsirmu mengenai lima. Yang jelas, harus ada yang memanjat pohon yang licin itu. ‘Lunyu-lunyu penekno’ agar blimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang harus memanjat adalah ‘bocah angon’ anak gembala, tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kiyai, boleh seorang jendral, atau siapapun namun ia harus memiliki daya ‘angon’ daya menggembalakan. Kesanggupan untuk ‘ngemong’ semua pihak. Karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis sesultan kedamaian bersama pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan. ‘Bocah angon’ adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini. Sang bocah angon (penggembala) harus memanjatnya. Harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya. Bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan. Dan air saripati blimbing lima gigir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya?. Berdirilah engkau didepan pasar dan copotlah pakaianmu. Maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima.”- EmHa Ainun Nadjib dalam renungan ‘lir-ilir’.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar