Indonesia adalah negara
yang berdasarkan kepada keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sejatinya
mengimplementasikan ajaran agama dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dengan agama kita mendapatkan nilai-nilai dasar kepemimpinan, jika
hal tersebut dapat dimanifestasikan dengan sempurna akan menghasilkan
integritas warga negara (pengikut) dengan pemimpinnya.
Georges Balandier dalam
Religion and Power melandaskan suatu konsep bahwa “eratnya atribut kekuasaan
(kepemimpinan) dan atribut agama menunjukan adanya ikatan yang selalu terdapat
diantaranya. Sejarah cenderung memutuskan ikatan ini, namu tak pernah
berhasil”. Dapat ditarik suatu penegasan bahwa agama dan kekuasaan atau yang
lebih kita tujukan pada kekuatan pemimpin adalah suatu elemen yang tak
terpisahkan. Dua hal yang saling berkesinambungan dan saling menopang dalam suatu
kerangka konsep masing masing bagian. Merujuk pada pendapat Max Weber
(1864-1920), agama-lah yang berjasa melahirkan perubahan sosial yang paling
spektakuler dalam sejarah peradaban manusia. Dengan nilai-nilai keagamaan
mendorong penganutnya untuk melakukan perubahan sosial dalam rangka melahirkan
peradaban yang lebih humanis.
Esensi agama, menurut
Hasan Hanafi, adalah sebagai sebuah kode etik universal dan ending - nya untuk
mewujudkan perilaku yang baik. Dan prinsip (etik) universal, lanjut Hanafi,
merupakan basis teoretis bagi etika global, dan perilaku baik merupakan dasar
praktis bagi solidaritas kemanusiaan. Dan inilah yang sangat dibutuhkan dalam
relasi menguasai dan dikuasai. Penguasa yang memiliki otoritas kekuasaan
diharapkan mampu bertindak progresif. Bersamaan dengan itu, yang dikuasai
(rakyat) memiliki kewajiban mengingatkan dan mengritik penguasa agar tetap
berada pada rel kekuasaan yang seharusnya. Mengkritik dalam artian mendukung
prospek penguasa.
Namun dengan demikian
bukan berarti agama dijadikan suatu tameng atau menjadikannya jembatan
keserakahan. Agama dalam bidangnya sebagai landasan moral dan bukan sebagai
pencari keuntungan. Itulah sebabnya Gus dur pernah mengutarakan kekecewaannya
atas seringnya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melandaskan agama untuk
suatu kehancuran. “Jika seorang pemimpin agama menduduki jabatan birokrasi
tanpa melepaskan unsur-unsur keagamaannya, bisa berakibat pada
ketidakseimbangan dalam dua kutub itu. Akibatnya, sering orang-orang agama
mencari keuntungan untuk penggemukan kelompoknya sendiri”. Dengan kata lain, Ia
menafsirkan agama berfungsi sebagai inspirasi dalam segala kehidupan bernegara
dan berbangsa dan bukan sebagai proses penggemukan keserakahan.
Sejatinya, agama sebagai
landasan moral manusia untuk menciptakan suatu integritas dan membangkitkan
nasionalisme terhadap bangsanya atau golongannya atau yang lebih kita tunjukan
terhadap loyalitas kelompok. Sehingga seorang pemimpin mampu membawa dan
membangkitkan kelompoknyas menuju sutu kebenaran.
Daftar Pustaka:
Adam, James. 1975. The
Republic of Plato. London: Cambridge University Press.
Antlov, Hans dan Sven
Cederroth. 2001. Kepemimpinan Jawa: Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Burns, J.M. 1978.
Leadership. New York: Harper Row.
Fung Yu-Lan. 2007.
Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kartodirdjo, Sartono.
1984. Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3S.
Machiavelli, Niccolo.
2008. The Prince 'Sang Penguasa'. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar