Senin, 15 Maret 2010

Nikmat Itu Hanya Sesaat*



Sesalku, satu kata yang ingin ku letakkan diawal kalimat untuk hari ini. Rasanya baru beberapa detik lalu aku mengunyah bakso yang dari setiap butirannya terasa nikmat menggelinding ditenggorokanku. (Sejenak mengingat kejadian beberapa detik lalu) Kukunyah dengan begitu nikmatnya. "Hari ini adalah keberuntunganku" begitu kata hatiku untuk segala nikmat hari ini. Betapa tidak, hari ini aku dapat bakso gratis plus kemenanganku bermain poker (game online yang menawarkan sejuta harapan dengan gelontoran chipsnya). "yap! jika sudah 10M aku jual aja ah, lumayan dapat 100 ribu bisa buat makan, rokoan plus pacaran" otak kampunganku mulai bermain-main dengan segala harapan semu itu.

"Mang tambah baksonya mang, lima ribu lagi" lanjutku meminta mamang tukang bakso untuk menambahkan baksonya saja.

"Laper de?" sahut mamang bakso itu sembari tersenyum dan menambahkan baksonya dimangkok yang ku pegang kini.

"hehehe... iya nih mang laper abis kerja"

"kerja apa emang de?"

"engga sih, cuma abis menang jual chips aja" sahutku. Teringat baru saja aku menukarkan 1M chipsku dengan uang 10ribu. "lumayan masih sisa 7m nih! ntar kalo udah 10M langsung sikat jual ajalah!" gumamku dalam hati.

"chips? apaan itu de?" dengan nada penasaran dan penuh tanya mamang bakso itupun menanggapi.

"ya semacam taruhan gitu deh mang"

"wealah taruhan tho? kok ya disebutnya kerja, dosa lhooo de..." sahut mamang bakso bermaksud mengingatkan.

"hehehe" dengan muka tak berdosa aku diam tak berdaya untuk menjawab pertanyaan itu. Namun jauh dalam lubuk hatiku aku dirumitkan dengan berbagai pilihan untuk itu. Pilihan dengan salah satu opsi dosa yang ku anggap biasa. Suatu dilema besar ketika keberlanjutan hidup diarahkan pada hal-hal yang berbau dosa apa lagi jika dikaitkan lebih jauh yang pada akhirnya mendzalimi pihak lain. Namun itulah realitanya, akupun cuek aja jika nantinya ada pihak yang dirugikan. Toh ini hidupku, 100% yang berhak mengatur hanyalah aku. Satu yang pasti! "YANG PENTING AKU BISA BERTAHAN HIDUP".

"berapa mang semuanya?" sejurus kemudian setelah aku melahap habis bakso rasa poker ini.
"10ribu de..." mamang bakso itu kemudian menyahuti.
" nih mang uangnya" (sambil menjulurkan uang merah bergambar Sultan Mahmud Badaruddin)

" makasih yaaa de"
"iya sama-sama" tutup ku sambil bergegas meninggalkan mamang bakso itu menuju kos untuk melanjutkan perjuangan 10M.


Sesaimpainya di kos. Kubuka pintu kamarku, Ku nyalakan laptop lalu duduk nyaman didepannya untuk kemudian bermain poker lagi.

10 menit berselang... 
Kondisi: Begitu cepatnya chipsku bertambah dari 7M kini 13M (melebihi target awal). Dengan harapan bisa lebih dari itu aku tetap memainkannya.

15 menit selanjutnya...
kondisi: Chipsku turun lagi menjadi 8M. Menyesal  tentunya! (kenapa tadi enggak berhenti), marah (dengan renungan khasnya "aku iki kok goblok yooo?"), dongkol ( dengan alasan: giliran kartuku bagus musuhku ga ikut bertaruh). Tak jarang pula umpatan-umpatan tanda kekesalan bersautan dari mulutku yang tak tau dosa ini.

20 menit kemudian: Seisi kebun binatang telah ku sebutkan. Marah, sedih, menyesal atau apalah itu kini sudah tiada guna lagi. Yang tersisa hanya sebait puisi ini yang kutuliskan dikala kerakusan membawaku pada lembah penyesalan.


Berawal dari pengetahuanku akan dosa
kukayuh anganku pada lembah dusta
tegap berkata aku ini hidup
biarlah lain dari aku mati menguncup


Puisi yang buruk, bahkan sangat-sangat buruk secara bahasa, arti maupun maknanya. "Itulah aku!" 'Aku' yang hanya memperdulikan diri sendiri. 'Aku' yang rakus. 'Aku' yang menghalalkan segala cara. 'Aku' yang membodohi diri sendiri dan tak menutup kemungkinan membodohi orang banyak. Satu yang ku tau kini, NIKMAT ITU (hasil dari dosa) HANYA SESAAT.



* Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita, nama tokoh atau apapun. Mohon maaf saya haturkan. Akhir kata, tulisan ini ku persembahkan untuk orang-orang terdekatku dan para wakilku.

Jumat, 12 Maret 2010

Demokrasi kian Utopis

Ketika wakil negeri ini dipenuhi para artis kondang, tukang jagal, dan para aparat keamanan negara. Seakan tak mau kalah, penarik becak pun kini tak canggung untuk menyuarakan keperkasaannya. Sungguh!, hanya satu kata yang ingin ku ucap saat ini, "I love you full demokrasi".

Ketika banyak Ku lihat kerusuhan,  kekacauan, dan peperangan sebangsa, Aku tetap mencintaimu. Ketika para rakyat dibodohi, ditindas dan dirampas apa yang jadi miliknya, aku akan tetap mencintaimu. Dan ketika pemimpinku dicemooh dan dihina hingga disejajarkannya dengan binatang semisal gurita ataupun kerbau, tak ragu aku untuk berbicara aku tetap mencintaimu wahai demokrasi. Kemolekanmu, kecantikanmu dan keindahanmu sungguh tak ada keraguan didalamnya. Akupun berani berteriak lantang, "KAULAH YANG SEMPURNA WAHAI DEMOKRASI!!!".

Inilah kebebasan yang kau ciptakan, kau suguhkan, dan kau nyanyikan. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu yang tak lebih sempurna dari-Nya (Tuhan). Demokrasi ciptaan manusia ini mampu melebihi kesempurnaan penciptanya. Demokrasi yang didalamnya terdapat cita, moral, etika dan nilai luhur amat disayangkan terlalu jauh melampaui penciptanya. Entah mana yang tak setia kawan ketika manusia dan demokrasi tak mampu jalan bergandengan, saling merangkul dan saling megingatkan. Yang jelas, Manusia tidak lebih sempurna dari hasil ciptaannya.

Wahai demokrasi, engkau diciptakan agar kehidupan manusia lebih baik dan tertata rapih agar saling menghormati, agar jernih dalam bertindak, agar tidak saling bunuh dan agar yang lain yang menjadikan manusia bernama manusia. Tak cukup satu kata, dua kata hingga beribu-ribu katapun tetap tak mampu menggambarkan kesempurnaanmu. Cita-cita yang tersirat dari penciptaanmu begitu luhur, kebebasan yang kau janjikan sungguh membutakan mata penciptanya. Hingga kini dari penciptaanmu , banyak orang yang menjadikan dirimu suatu lambang kebebasan yang tak tentu arah dan tak jarang juga banyak orang yang menjadikanmu kambing hitam atas tindakannya. Atas tindakan yang tak bermoral, tak beretika, dan tak memiliki nilai-nilai positif.

Demokrasi, Kian hari keberadaanmu semakin membawamu pada curam Utopis, sebuah cita cita (impian) yang dianggap ideal  dan sempurna, namun tak pernah menemukan titik terang sehingga keberadaanmu tetap dalam angan penciptamu dan tak pernah beranjak menjadi nyata. Sebenarnya kau ini (demokrasi) yang harus manusia patuhi atau kau yang harus patuh kepada manusia. Aku sulit menggambarkan kedudukanmu dimata manusiai. Kau berada diatas sebagai cita-cita, kau berada dibawah sebagai pijakan atau kau berada ditengah-tengah sebagai pelindung?. Entahlah...

Jumat, 05 Maret 2010

Ingin aku menulis ketika aku membaca tulisanmu (bagian 2)

Tak runtut, Tak mengenai maksud, bahkan terkesan membingungkan. Ketika paradigma dunia nyata aku tuturkan dalam bahasa tikus, kucing dan anjing. Begitu kata seorang temanku setelah ia membacanya. Sesungguhnya, keruwetan itulah kawan yang sebenarnya ingin aku gambarkan terhadap lakon republik dagelan seperti apa katamu. Ketika tikus bebas berselingkuh dengan kucing ataupun anjing dan begitu juga sebaliknya. Itulah Indonesia, tanah air tercinta milik aku, kamu, kami, kalian, mereka, kita semua.

Indonesia yang kita banggakan atas demokrasinya kini telah berubah menjadi indonesia bebas, lepas, terlepas dan semaunya. Kita bebas mencaci, menjatuhkan, bahkan kitapun dibebaskan untuk saling menghantam. Setuju atau tidak, tapi itulah realita yang aku tangkap ketika aku melihat sinetron yang kau suguhkan terhadapku. Sungguh memprihatinkan lagi ketika para lakon republik dagelan itu saling berteriak dan tak canggung untuk mengikutsertakan Tuhan terhadap drama yang mereka lakoni.

"Allahuakbar... merdeka!, merdeka!, merdeka! allaaaaaaahuakbar!" entah apa makna yang terkandung dari teriakan mereka itu. Satu yang tak bisa kupahami, sejak kapan Tuhan ikut berpolitik, atau sejak kapan lafadz 'Allahuakbar' bebas dipergunakan diforum yang tidak ada kejelasan moral dan etikanya?. Sebagai hamba Tuhanpun aku tak kuat rasa menahan hinaan itu, hinaan yang sudah tidak lagi mensakralkan posisi Tuhan. Itu kita yang hanya sebagai hambanya, bagaimana dengan Tuhan? telah Ia ciptakan mulut kita untuk kita rawat ucapannya agar kita tidak sembrono. Namun realitanya, siciptaan itu memang takpernah berterimakasih atas anugrah yang telah Tuhan berikan kepadanya. Hingga masalah duniapun tak canggung mereka melibatkan Tuhan didalamnya. Sesuatu yang patut dipertanggung jawabkan jika suatu saat nanti terbukti teriakan 'Allahuakbar' itu hanya bermakna sebuah batu besar tempat para lakon dapat bersembunyi?. Bukan itu yang aku dan hamba-hamba lain inginkan. Kita hanya ingin 'Allahuakbar' digunakan pada sesuatu yang benar saja, bukan pada hal yang tak jelas salah maupun benarnya.

Belum cukup kekecewaan itu terobati, lakon itu kini kembali berulah. Yang seharusnya dipundak mereka jutaan rakyat Indonesia digendongnya, di otak mereka jutaan rakyat Indonesia berharap, ditangan mereka jutaan rakyat Indonesia menitipkan negara, dikaki mereka jutaan rakyat Indonesia bersimpuh. Dan pada diri merekalah jutaan rakyat Indonesia meminta keadilan. Tapi apa yang dilakukan para lakon? Pundaknya mereka biarkan tergeletak sejajar dengan kepalanya untuk kemudian bermimpi. diotak mereka kerakusan telah menjadi bagian hidupnya. Ditangan mereka gaya hidup dan kepentingan pribadi telah menjadikan mereka lupa akan kewajibannya. Dikaki mereka kita tak mampu ikut serta berjalan. Lalu apa lagi yang kita harapkan atas diri mereka? Keadilan yang hanya sebatas kata-kata itukah yang menjadi acuannya. Mengenaskan...

Setauku, inilah kerjaan para lakon bergajih tinggi itu: Tidur kemudaian saling hantam. Online untuk sekedar mengeksiskan diri mereka ataupun hanya bermain game dengan properti kepuanyaanya. Atau bahkan hanya untuk sekedar (maaf) mengupil. Bahkan mungkin suatu saat (Semoga tidak terjadi) mereka sudah tak canggung lagi untuk hanya sekedar menggaruk (maaf) pantat atau barang kepunyaannya (aku sebut itu dengan ritual 'mlintir') J

Wajar bukan jika orang-orang sepertiku pada akhirnya mengalami krisis kepercayaan?. Lebih lagi, Apakah kalian para lakon pernah berpikir kenapa aku memilihmu?. Aku takut dosa wahai orang yang kupilih, ketakutan akan dosa atas tindakanku jika aku tidak memilih salah satu dari kalian. Bagaimana tidak, terang-terangan MUI mengeluarkan fatwa GOLPUT = HARAM. Itu artinya jika aku tidak memilih salah satu dari kalian maka aku sudah berbuat dosa. Sungguh sebuah dilema ketika aku berlari dari dosa yang satu malah terjerumus pada dosa yang lain. Dosa yang mengantarkanku pada pilihan yang tidak tepat jika kau mengecewakanku wahai orang-orang yang terpilih.Sebuah Dosa pada pilihan yang salah yang justru bau busuknya lebih menyengat jika aku tidak memilihmu (golput). Jika sudah begini, biarlah kurelakan sebagian catatan hidupku dilumuri Dosa yang telah kita perbuat. Aku salah memilih, dan kau salah bertindak.


Kamis, 04 Maret 2010

Ingin aku menulis ketika aku membaca tulisanmu (bagian 1)

Rabu malam, saat kuputuskan untuk terlelap bersama lelahnya perjuangan. Tulisan temanku mengajakku untuk berwisata ke alam yang diungkapkannya. Alam yang bebas berargumen, beropini dan bebas mengkritik. Alam itu yang kini sedang menjadi candu dalam kehidupanku. Mungkin tulisanku bukan tulisan yang kau anggap intelektual teman. Namun aku hanya mencoba belajar atas tantangan alam yang kau suguhkan terhadapku. Berawal dari tutur katamu tentang prilaku prilaku lakon politik yang mengecewakan. Kau mampu menyuguhkan gambaran tentang tikus, kucing dan anjing. Memang benar, di negara kita tikus bisa bebas berkoalisi dengan kucing untuk melawan anjing. Dan Tikus pun bebas berkoalisi dengan anjing untuk membredeli kucing. Atau bahkan kucing berkoalisi dengan anjing hanya untuk menjatuhkan mahluk sekecil tikus. Tak ada lawan pasti, ribuan tahun sejarah kucing sebagai pemangsa tikuspun tak cukup mampu menjadi alasan untuk menjalin petemanan sesaat. Sebuah pertemanan yang tak menutup kemungkinan suatu saat kucing akan kembali menjadi pemangsa tikus. Itulah politik, saling menjatuhkan, saling mencemooh, dan tak canggung untuk saling hantam. Tak peduli seluruh rakyat indonesia tau, tak peduli seluruh rakyat indonesia mengkritik, dan tak peduli jika pada akhirnya rakyat kecewa. Karena ini memang dunia milik mereka. Dunia milik orang-orang yang terpilih.

Seharusnya memang dari awal aku tak berpaling dari warna putih. Dan seharusnya juga dari awal aku menyadari bagaimanapun usahaku untuk tidak lagi memilih putih itu hanya sia-sia. Karena kini warna lain itu telah melenyapkanku pada dosa yang bahkan lebih menyengat bau busuknya dari dosa warna putih. Karena  44 warna itu kini tak mampu melayani rakyat, tak mampu memerdekaan rakyat dan tak mampu mengembalikan uang rakyat. Dan kini, belum usai mereka mengembalikan uang rakyat, mereka kembali menghutang kepada negara. Sungguh suatu yang tak bisa dipahami jika membayar kewajibannya dengan kembali berhutang. Jika uang negara itu milik kami, sungguh pintar kalian wahai orang-orang yang terpilih.





Nb: Ingin rasanya ikut berkomentar ataupun sekedar berceloteh lebih banyak. Namun lelah mata ini sudah tak mampu lagi kupaksaan. Dan akhirnya kuputuskan untuk ikut serta membagi tulisan ini kedalam beberapa bagian seperti katamu agar tidak bosan.






Baca kelanjutannya: Ingin aku menulis ketika aku membaca tulisanmu (bag. 2)