Pada buku kecil yang saya baca,
Kierkegaard mencoba mengisahkan kembali cerita Nabi Adam di surga. Hari-hari
Adam disurga berjalan sangat bahagia, bahkan hingga saat Hawa diciptakan
untuknya. Namun begitulah Tuhan menciptakan manusia, terkadang ada bayangan
yang mengganggu kebahagiannya, entah apa itu.
Adam dan Hawa tidak tahu sumber
kegelisahannya, hingga pada akhirnya kegelisahan itu mencapai klimaks saat
Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan
(buah kuldi). Mungkin Adam bahkan Hawa tidak pernah
berfikir untuk makan buah tsb, tetapi sekali Allah melarang Adam dan Hawa
melakukannya, Mereka tahu bahwa mereka dapat melakukannya (bebas melakukannya).
Ketika Adam dan Hawa tahu bahwa mereka dapat melakukannya, mereka tahu bahwa
mereka mungkin melakukannya, dan dalam kenyatannya mereka kemungkinan besar
akan melakukannya. Itulah hukum kausalitas; sebab Ia tahu, berakibat Ia
akan mencari tahu kebenarannya.
Rasa takut atau kecemasan yang dialami
Adam dan Hawa ketika berhadapan dengan kebebasannya adalah rasa takut yang bisa
saja kita alami saat kita berhadapan dengan kebebasan kita. Lalu, apakah kita
telah siap akan kebebasan kita? mari kita renungkan kembali.
“Menjadi manusia adalah menjadi
makhluk yang sadar dan terhukum bebas”, J.P Sartre. Kutipan tersebut sekiranya
sedikit mewakili atas apa yang saya ingin tuliskan. Terkadang, kita memang
kurang menyadari jikalau kebebasan pada hekekatnya telah ada sejak kita
dilahirkan. Bahkan menurut Sarte, kebebasan inilah yang selalu menghukum dan
mengusik kehidupan kita. Sehinggga dalam taraf essensial, manusia pun tidak
perlu memperjuangkan atau bahkan memaksakan kehendak kebebasannya. Karena
sesungguhnya, kebebasan itu telah ada dan selalu spontan melandasi setiap
keputusan kita. Kita tidak perlu mencarinya.
Kisah Kierkegaard dalam merekonstruksi
kejadian Adam dan Hawa memakan buah kuldi, memberikan banyak pelajaran untuk
memecahkan problem kebebasan ini. Dalam kisah itu, ketakutan Adam dan Hawa
justru muncul ketika mereka berhadapan dengan kebebasannya. Saat mereka mulai
menyadari ada larangan yang mengusik kebebasannya, jiwa Adam dan Hawa
seolah-olah berontak ingin memakan buah tersebut. Adam dan Hawa sadar bahwa
mereka mempunyai pilihan; memakannya atau mengabaikannya dengan berbagai macam
rasa penasaran yang menakutkan. Alkisah, Adam dan Hawa akhirnya memakan buah
tersebut dengan berbagai rasa penyesalan dan sedikit rasa puas penuh tanggung
jawab. Hingga kini, kebebasan itu pun menghukum kita walau disisilain kita
memang membutuhkan itu (kebebasan).