Sampai kapanpun Indonesia tak kan mampu berbicara banyak dihadapan dunia. Karena Indonesia hanyalah negeri dengan angan angan jutaan penduduknya yang selalu bernyanyi meneriakan patriotismenya. “Garuda di dadaku, Garuda kebangganku” Kiranya cukup sebait kalimat itu untuk menghujam tepat disetiap benak nurani kita. Indonesia, adalah negeri dengan jutaan cinta disetiap simbol kenegaraannya. Dalam keadaan se ekstrim apapun, Merah, Putih, Garuda dan lagu kebangsaan tak lelah arogan di langit ranah pertiwi. Lantas, cukup adilkah perlakuan Negeri ini membalas setiap derai tangis yang terurai disetiap tetes perjuangan rakyatnya? Okelah kita kesampingkan dulu carut marut bangsa kita akibat ulah para koruptor.
Baru saja, negeri yang mencatatkan diri sebagai salah satu negara terkorup ini menyaksikan pesta meriah saudara mudanya dan hanya mampu berteriak ganyang, ganyang, dan ganyang sambil sesekali menahan sedu disetiap jeda tangis kita. Ya, bahkan dikancah Sepakbola saja kita belum mampu mengalahkan Negara yang dikatakan lebih sedikit penduduknya dibanding Negara kita. “Kecil kecil cabe rawit” julukan itu kiranya pantas disematkan kepada negara yang selama ini selalu bersitegang dengan negara kita meskipun pada dasarnya kita serumpun dan satu latar belakang sejarah dengan mereka.
Sedangkan kita, “Tidak mempunyai stamina yang konsisten selama 90 menit, mempunyai mental tempe dan sulit mengontrol emosi.” Begitulah sebagian gambaran problem timnas selama ini. Sekali lagi, Indonesia hanya mampu bermimpi, bermimpi dan bermimpi. Jangankan di level Internasional, pada level Asia tenggara saja kita belum bisa menunjukan progres yang signifikan. Padahal sepakbola adalah pemersatu bangsa dan perekat jarak antar kelas. Terserah anda setuju atau tidak, bagi saya sepak bola adalah salah satu bentuk ideologi yang saya berani katakan sebagai medan perang dan penaklukan di era modern. Kiranya butuh berapa banyak lagi potensi pemain berbakat dari jutaan rakyat Indonseia agar kita dapat menaklukan dunia? Atau memang Negara kita masih kekurangan penduduk sehingga sulit mencari bakat potensial yang akan membuat kita tersenyum bangga? Entahlah…
Belum lagi masalah internal terselesaikan. Masalah eksternal muncul begitu derasnya menggoyahkan sistem persepakbolaan tanah air. Jelas saya sepakat pada kalian yang menyebut betapa kancutnya sistem distribusi tiket menjelang pertandingan final .Tentu juga saya merasakan kegeraman yang sama saat hasrat besar untuk menjad saksi sukses pertama kita di Asia Tenggara dalam kurun 19 tahun terakhir ini terhambat oleh mekanisme kacaubalau yang membuat kita jadi berada dalam sebuah ketidakpastian dan rasa frustrasi.
Jika kita memang menginginkan Indonesia yang mampu berbicara banyak dihadapan dunia. Maka galanglah segala kekuatan dan segeralah berevolusi. Saya yakin bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang kecewa pada sikap PSSI. Namun bukan berarti kita menumpahkan kekesalan kita dengan merusak stadion atau melakukan hal bodoh lainnya yang membuat kita menjadi rugi sendiri. Ambil contoh, jika kita kecewa terhadap kinerja PSSI maka hancurkanlah orang orang yang tidak becus bekerja itu. Atau jika kita kecewa terhadap kineja Nurdin Halid, maka robohkanlan kekuasaanya bukan malah merobohkan hal lain seperti merobohkan pagar stadion GBK.
Bangkitlah Indonesiaku, kita semua yakin hal hal seperti ini adalah proses menuju kedewasaan kita yang sesungguhnya. Oleh karena itu, belajarlah dari kesalahan dan teruslah bersemangat!. Sehingga suat saat nanti kita akan selalu bernyanyi “Ku yakin, Hari ini pasti menang!”.
Bangkitlah Indonesiaku, kita semua yakin hal hal seperti ini adalah proses menuju kedewasaan kita yang sesungguhnya. Oleh karena itu, belajarlah dari kesalahan dan teruslah bersemangat!. Sehingga suat saat nanti kita akan selalu bernyanyi “Ku yakin, Hari ini pasti menang!”.
Yogyakarta, 30 Desember 2010