Rabu, 12 Maret 2014

Problem Kebebasan

Pada buku kecil yang saya baca, Kierkegaard mencoba mengisahkan kembali cerita Nabi Adam di surga. Hari-hari Adam disurga berjalan sangat bahagia, bahkan hingga saat Hawa diciptakan untuknya. Namun begitulah Tuhan menciptakan manusia, terkadang ada bayangan yang mengganggu kebahagiannya, entah apa itu.

Adam dan Hawa tidak tahu sumber kegelisahannya, hingga pada akhirnya kegelisahan itu mencapai klimaks saat Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan (buah kuldi). Mungkin Adam bahkan Hawa tidak pernah berfikir untuk makan buah tsb, tetapi sekali Allah melarang Adam dan Hawa melakukannya, Mereka tahu bahwa mereka dapat melakukannya (bebas melakukannya). Ketika Adam dan Hawa tahu bahwa mereka dapat melakukannya, mereka tahu bahwa mereka mungkin melakukannya, dan dalam kenyatannya mereka kemungkinan besar akan melakukannya. Itulah hukum kausalitas; sebab Ia tahu, berakibat Ia akan mencari tahu kebenarannya.

Rasa takut atau kecemasan yang dialami Adam dan Hawa ketika berhadapan dengan kebebasannya adalah rasa takut yang bisa saja kita alami saat kita berhadapan dengan kebebasan kita. Lalu, apakah kita telah siap akan kebebasan kita? mari kita renungkan kembali.

“Menjadi manusia adalah menjadi makhluk yang sadar dan terhukum bebas”, J.P Sartre. Kutipan tersebut sekiranya sedikit mewakili atas apa yang saya ingin tuliskan. Terkadang, kita memang kurang menyadari jikalau kebebasan pada hekekatnya telah ada sejak kita dilahirkan. Bahkan menurut Sarte, kebebasan inilah yang selalu menghukum dan mengusik kehidupan kita. Sehinggga dalam taraf essensial, manusia pun tidak perlu memperjuangkan atau bahkan memaksakan kehendak kebebasannya. Karena sesungguhnya, kebebasan itu telah ada dan selalu spontan melandasi setiap keputusan kita. Kita tidak perlu mencarinya.

Kisah Kierkegaard dalam merekonstruksi kejadian Adam dan Hawa memakan buah kuldi, memberikan banyak pelajaran untuk memecahkan problem kebebasan ini. Dalam kisah itu, ketakutan Adam dan Hawa justru muncul ketika mereka berhadapan dengan kebebasannya. Saat mereka mulai menyadari ada larangan yang mengusik kebebasannya, jiwa Adam dan Hawa seolah-olah berontak ingin memakan buah tersebut. Adam dan Hawa sadar bahwa mereka mempunyai pilihan; memakannya atau mengabaikannya dengan berbagai macam rasa penasaran yang menakutkan. Alkisah, Adam dan Hawa akhirnya memakan buah tersebut dengan berbagai rasa penyesalan dan sedikit rasa puas penuh tanggung jawab. Hingga kini, kebebasan itu pun menghukum kita walau disisilain kita memang membutuhkan itu (kebebasan).